Contoh Skripsi Bahasa Arab Bab 4

 

BAB IV

ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN

Penelitian ini menyajikan hasil penelitian yang dilakukan di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan yang penyajiannya meliputi 3 hal yaitu: proses pembelajaran bahasa Arab, problematika pembelajaran bahasa Arab dan solusi untuk mengatasi problematika pembelajaran bahasa Arab.

Proses pembelejaran bahasa Arab berisi rangkaian kegiatan pembelajaran mulai dari awal sampai akhir. Problematika pembelajaran bahasa Arab berisi temuan-temuan kasus berdasarkan data hasil penelitian di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan. Solusi mengatasi problematika pembelajaran berisi tentang usaha guru dan madrasah, baik yang sudah dilaksanakan maupun yang masih berupa program untuk memperbaiki pembelajaran di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan.

A.    Analisis Proses Pembelajaran Bahasa Arab di MTs As Syafi’iyah Pecangakan

Tahapan-tahapan dalam proses pembelajaran bahasa Arab di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan, meliputi:

1.      Tahap perencanaan

Penyusunan silabus bisa dilakukan oleh tim guru atau tim ahli mata pelajaran, sedangakan rencana pembelajaran (RPP) sebaiknya disusun oleh guru bahasa Arab sebelum melakukan kegiatan pembelajaran. Rencana pembelajaran bersifat khusus dan kondisional, dimana setiap sekolah tidak sama kondisi siswa dan sarana prasarana sumber belajarnya. Oleh karena itu penyusunan rencana pembelajaran didasarkan pada silabus dan kondisi pembelajaran agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung sesuai harapan.

Dalam melaksanakan pembelajaran, guru di MTs Asyafi’iyah Pecangakan termasuk guru bahasa Arab dibekali dengan perangkat pembelajaran seperti absensi siswa, daftar nilai, kalender pendidikan, dan program harian yang telah disusun oleh tim kurikulum. Selain itu, guru bahasa Arab di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan dalam kegiatan belajar mengajar menerapkan teori dan metode pembelajaran, diantaranya adalah metode ceramah: kegiatan ini biasanya digunakan untuk memulai kegiatan pembelajaran terutama pada awal pembelajaran. Metode diskusi: untuk mendiskusikan materi yang berkaitan dengan tema yang sedang diajarkan. Metode tanya jawab: kegiatan ini dilakukan dengan cara guru bertanya kepada siswa atau sebaliknya berkaitan dengan tema pembelajaran yang sedang diajarkan.[1] Akan tetapi ketika penulis melakukan observasi saat pembelajaran bahasa Arab, penulis tidak melihat guru bahasa Arab di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan menyiapkan RPP sebelum pembelajaran, padahal RPP merupakan sesuatu yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan oleh guru. Karena RPP merupakan pedoman guru dalam mengajar, dengan adanya hal tersebut penulis berkeyakinan bahwa sebenarnya banyak sekali guru-guru di sekolah-sekolah lain yang mengajar tanpa RPP, karena guru menganggap sudah menguasai betul materi pembelajaran dan guru tidak mau direpotkan dengan membuat RPP.

2.      Tahap pelaksanaan

Adapun rangkaian proses pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan adalah sebagai berikut:

a.       Pendahuluan

Pembelajaran bahasa Arab di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada hari Rabu untuk kelas IXA dimulai pukul 10.00-10.55 dan untuk kelas IXB adalah pada pukul 11.00-11.55. sedangkan pada hari Kamis pembelajaran dimulai pukul 09.00-10.55 untuk kelas IXA dan pukul 11.00-12.55 untuk kelas IXB. Sedangkan pada pukul 07:00 diisi dengan pelatihan membaca Al-Quran yang diadakan oleh sekolah diperuntukkan khusus bagi siswa yang masih kesulitan dalam membaca tulisan Arab.

Hasil observasi pembelajaran bahasa Arab di kelas IXA. Guru bahasa Arab masuk ke kelas tepat pukul 09:00 dan mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam, menanyakan kabar, dan doa bersama. Selanjutnya guru mengabsen siswa dilanjutkan memberi nasehat dan motivasi kepada siswa agar lebih giat belajar bahasa Arab. dilanjutkan dengan guru menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran pada hari itu. Materi yang diajarkan adalah menulis/kitabah dengan standar kompetensi ”Mengungkapkan pikiran, perasaan, pengalaman dan informasi melalui kegiatan menulis tentang المناسبات الدينية/peringatan hari-hari besar keagamaan”, dan kompetensi dasar “Siswa dapat menulis kata, frase dan kalimat sederhana tentang peringatan hari-hari besar keagamaan dan siswa dapat mengungkapkan informasi dan gagasan secara tertulis dalam kalimat  sederhana tentang peringatan hari-hari besar keagamaan.

b.      Kegiatan inti

Kegiatan inti dilakukan melalui serangkaian kegiatan yang meliputi kegiatan awal, eksplorasi, elaborasi dan, konfirmasi.

1.      Kegiatan awal

Guru mengulas kembali materi tentang المناسبات الدينية, Guru menyediakan/memberikan kalimat-kalimat kepada siswa tentang materi kitabah

2.      Eksplorasi

Guru memberikan tugas menyusun kalimat-kalimat yang disediakan oleh guru tentang المناسبات الدينية.

3.      Elaborasi

Siswa merangkai kata-kata acak menjadi sebuah kalimat yang berkaitan dengan المناسبات الدينية kemudian siswa menulis pertanyaan untuk jawaban yang disediakan oleh guru dengan baik dan benar dilanjutkan siswa menyusun kalimat dengan menggunakan kata-kata atau mufrodat yang disediakan dengan bimbingan guru.

4.      Konfirmasi

Guru memberikan penguatan tentang kesimpulan المناسبات الدينية.

c.       Kegiatan Penutup

Guru melaksanakan penilaian lisan dan memberikan tugas pengayaan kemudian pembelajaran ditutup dengan bacaan hamdalah dan salam.[2]

Berdasarkan observasi penulis, pembelajaran di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan masih bersifat pembelajaran konvensional karena dapat penulis lihat dari metode yang digunakan guru dalam mengajar yaitu ceramah, tanya jawab, dan diskusi yang pembelajarannya masih berpusat pada guru.

3.      Tahap evaluasi

Berdasarkan wawancara dengan bapak Agus Yandi menyatakan bahwa evaluasi pembelajaran bahasa Arab di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan ada 3 macam yaitu:

1.      Evaluasi harian

Evaluasi ini dilakukan stiap hari pada waktu akhir pembelajaran dengan cara bertanya kepada siswa tentang materi yang berhubungan dengan materi yang telah diajarkan. Apabila siswa mampu menjawab dengan benar berarti pembelajaran dapat dikatakan berhasil.

2.      Evaluasi formatif

Evaluasi ini dilakukan pada setiap akhir pembahasan topik dan dimaksudkan ntuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang telah direncanakan.

3.      Evaluasi sumatif

Evaluasi ini dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan dan dimaksudkan untuk mengetahui  sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya.[3] Menurut penulis ketiga evaluasi pembelajaran yang dilakukan di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan perlu ditambah dengan evaluasi pembelajaran yang lain seperti evaluasi dignostik yaitu evaluasi yang ditujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa serta faktor-faktor penyebabnya. Setelah guru mengetahui kelemahan siswa tentu akan mempermudah guru dalam menggunakan metode yang tepat dalam mengajar.

B.     Problematika Pembelajaran Bahasa Arab

Pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila semua siswa dapat menerima dan memahami materi yang diajarkan oleh guru. Materi pelajaran dapat diterima oleh siswa apabila penyajiannya mengikuti prinsip-prinsip pembelajaran yang ada, sehingga siswa dapat tuntas dalam menerima pelajaran yang dibuktikan dengan hasil evaluasi.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah, standarisasi atau taraf keberhasilan dalam belajar mengajar adalah sebagai berikut:

1.      Istimewa (maksimal), apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai siswa

2.      Baik sekali (maksimal), apabila sebagian besar 76%-99% bahan pelajaran dikuasai siswa

3.      Baik (minimal), apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60%-75% bahan pelajaran dikuasai siswa

4.      Kurang, apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% yang dapat dikuasai siswa[4]

Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan angket yang penulis laksanakan, ada beberapa problematika pembelajaran bahasa Arab, diantaranya:

1.      Problem Linguistik

a.       Siswa belum bisa membaca tulisan Arab

Dari sebagian siswa kelas IX, masih ditemukan beberapa orang siswa yang masih belum bisa membaca tulisan Arab. Hal ini terjadi karena latar belakang pendidikan siswa yang tidak sama. Sebagian berasal dari MI dan sebagian yang lainnya berasal dari SD.

b.      Kesulitan dalam menulis Arab dengan dikte

Banyak siswa yang merasa kesulitan ketika menulis Arab dengan dikte. Kesalahan tersebut diantaranya dalam hal menyambung huruf antar kalimah yang didahului al makrifat dengan yang tidak seperti menulis kata seharusnya الشمس menjadi اشمس dan juga kesulitan dalam menulis huruf Arab yang hampir sama makhrajnya seperti menulis huruf ع dengan ء, ح  dengan ه, ض dengan ظ, dan lain-lain.

c.       Siswa masih kesulitan dalam mengartikan bacaan

Materi yang dirasa sulit bagi siswa adalah menerjemahkan, dengan alasan susunan subjek dan predikat bahasa Arab sering dibalik ketika diartikan menjadi bahasa Indonesia seperti ذهب محمد الى المدرسة  diartikan pergi Muhammad ke sekolah, padahal yang sebenarnya adalah Muhammad pergi ke sekolah .

d.      Ketidaksesuaian menyusun kalimat dengan jenis kata kerja yang tepat

Ketika guru menyuruh membuat kalimat dengan bahasa Arab sebagian besar siswa kesulitan dalam menyusun kata kerja yang sesuai, baik dari jenisnya (mudzakar atau mu’anats) maupun dari jumlah bilangannya (mufrad, tasniyah, dan jamak). Hal ini dikarenakan susunan subjek dan predikat bahasa Arab dengan terjemahnya sering dibalik/tidak urut. Sebagai contoh ketika guru menyuruh membuat kalimat telah berdiri Fatimah kebanyakan siswa menulis dengan قام فاطمة.[5]

2.      Problem Non Linguistik

a.       Siswa

Secara umum pembelajaran bahasa Arab di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan dari faktor siswa tidak mengalami masalah artinya pembelajaran bahasa Arab di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan dapat dikatakan sudah cukup baik. Bapak Agus Yandi, S.Pdi mengatakan: ”secara umum pembelajaran bahasa Arab disini sudah berjalan kondusif walaupun masih ada sedikit kendala berkaitan dengan siswa yang belum bisa membaca tulisan Arab karena memang latar belakang  penedidikan siswa yang berbeda”.[6]

Problematika pembelajaran bahasa Arab yang penulis temukan berkaitan dengan siswa di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan, diantaranya adalah:

1.   Latar belakang pendidikan siswa yang heterogen

Bapak Agus Yandi, S.Pdi menjelaskan bahwa siswa MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan sebagian besar berasal dari masyarakat biasa dan sebagian kecil ada yang tinggal di pesantren, sehingga siswa yang tinggal di rumah orang tua, khususunya yang alumni sekolah dasar (SD) banyak yang belum mengenal bahasa Arab.[7]

2.   Kurangnya motivasi siswa MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan

Ketika penulis melakukan observasi di kelas dan penulis diberi kesempatan untuk menyapa siswa-siswa kelas IXB kemudian penulis bertanya kepada seluruh siswa kelas IXB tentang pelajaran bahasa Arab dan hampir seluruh siswa menjawab sulit, bahkan lebih sulit dari bahasa Inggris sehingga siswa tidak ada motivasi untuk belajar bahasa Arab dengan serius. Hal tersebut dikarenakan dalam pikiran siswa sudah tertanam bahwa bahasa Arab adalah pelajaran yang sangat sulit untuk dipelajari.[8]

b.      Waktu pembelajaran yang kurang

Bahasa termasuk keterampilan dan penguasaannya membutuhkan waktu dalam mengajarkannya. Sedangkan waktu yang tersedia untuk mengajarkan bahasa Arab di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan dirasa sangat kurang dan tidak memadai. Hal ini menyebabkan tidak tuntasnya penyampaian materi bahasa Arab sesuai kurikulum.

Sementara itu, mata pelajaran bahasa Arab di madrasah hanya diberi alokasi waktu sekitar 2-3 jam pelajaran per minggu dengan durasi waktu 45 menit per jam pelajaran. Dengan terbatasnya waktu yang tersedia, maka guru bahasa Arab dituntut untuk mampu membuat desain pembelajaran yang efektif dan efisien agar tujuan dan kompetensi dasar yang ditetapkan bisa tercapai. Tanpa langkah dan upaya tersebut, sangat mungkin tujuan tidak akan tercapai.[9]

c.       Guru

Guru adalah komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial. Oleh karena itu, guru harus berperan aktif dalam menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.[10]

Adapun yang disebut sebagai guru profesional adalah guru yang mempunyai empat kompetensi pokok, yaitu:

1.      kompetensi pedagogis yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan mengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis

2.      kompetensi profesional yaitu kemampuan yang menyangkut penguasaan materi pembelajaran

3.      kompetensi personal yaitu kemampuan personal yang menunjukkan kepribadian mantap, stabil, dewasa, arif, dan berakhlak mulia.

4.      kompetensi sosial yaitu kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, orang tua/ wali peserta didik dan masyarakat sekitar.[11]

Sedangkan guru bahasa Arab yang profesional harus memiliki kualifikasi sebagai berikut:

1.      Berlatar belakang  pendidikan keguruan bahasa Arab

2.      Memiliki pengetahuan yang memadai tentang bahasa Arab dan mahir berbahasa Arab

3.      Memiliki pengetahuan tentang proses belajar mengajar bahasa Arab dan mampu menerapkannya dalam pembelajaran

4.      Memiliki semangat dan kesadaran untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesinya sesuai dengan perkembangan zaman[12]

Problematika pembelajaran bahasa Arab yang penulis temukan berkaitan dengan guru, antara lain:

1.      Kualifikasi ijazah guru bahasa Arab yang belum sesuai

Guru bahasa Arab di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan hanya satu yaitu bapak Agus Yandi lulusan Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), sedangkan idealnya guru bahasa Arab adalah guru yang berasal dari lulusan pendidikan bahasa Arab. begitu juga guru-guru untuk mata pelajaran yang lain seharusnya mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

2.      Kurang membiasakan siswa untuk berbicara bahasa Arab di kelas

Ketika melakukan observasi, penulis menemukan banyak siswa di kelas IXB yang tidak bisa membalas sapaan selamat siang dalam bahasa Arab dan ketika penulis bertanya apa kabar dalam bahasa Arab juga siswa tidak bisa menjawab.[13]

3.      Kurang menggunakan variasi metode dalam mengajar

Untuk melakukan proses pembelajaran perlu menentukan metode yang tepat sehingga dapat memungkinkan tercapaianya tujuan belajar baik segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Jadi, yang terpenting dalam mengajar bukan upaya guru menyampaikan materi, akan tetapi bagaimana siswa dapat mempelajari materi pembelajaran sesuai dengan tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut idealnya seorang guru dituntut memiliki wawasan dan kemampuan untuk melaksanakan tugas secara profesional.

Salah satu aspek pengkajian yang membutuhkan perhatian mendalam agar tujuan pembelajaran yang dicapai tidak hanya terpusat pada tataran kognitif, perlu dikembangkan metode pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan yang disingkat Paikem. Disinilah peran penting guru untuk ikut mengenalkan sekaligus sebagai pelaku pengupayaan pengenalan pembelajaran melalui pengajaran yang mudah diterima oleh peserta didik.

Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan  merupakan salah satu metode pembelajaran yang bisa diterapkan oleh para guru, baik ditingkat sekolah dasar maupun menengah. Kegiatan pembelajaran akan mencapai hasil maksimal apabila dilakukan dengan cara mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta kemampuan untuk dapat memecahkan masalah dan memanfaatkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik dan menyenangkan.[14]

Sedangkan berdasarkan data kuisioner siswa, 60% siswa menjawab guru kurang dalam menggunakan variasi metode dalam pengajarannya.[15]

d.      Lingkungan

1.      Keluarga

Problematika yang hampir terjadi di semua madrasah adalah kurangnya perhatian dan dukungan orang tua siswa dalam belajar bahasa Arab di rumah, karena rata-rata warga masyarakat desa Pecangakan dan sekitarnya masih asing dengan bahasa Arab. Meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, namun dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya tidak menggunakan bahasa Arab.

Dari hasil wawancara dengan Rizka Inayah dan Sufchul Ladzati masing-masing siswa kelas IXA menyatakan bahwa orang tuanya sama sekali tidak pernah menyuruh belajar bahasa Arab karena orang tuanya sendiri dengan bahasa Arab saja masih terasa asing.[16]

2.      Masyarakat

Lingkungan masyarakat adalah lingkungan dimana siswa-siswa bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat umum sehingga kemampuan kosa-kata dan bahasa siswa akan bertambah jika lingkungan tersebut mendukung untuk belajar. Sedangkan warga masyarakat desa Pecangakan rata-rata masih asing dengan bahasa Arab dan penulis juga tidak menjumpai sarana latihan berbahasa Arab di masyarakat maupun bimbingan belajar yang mengajarkan bahasa Arab.[17]

Selain itu, Realita yang ada di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan dijelaskan oleh Bapak Agus Yandi bahwa hampir seluruh wilayah dimana siswa tinggal, tidak ada satupun lingkungan atau dusun yang menggunakan percakapan bahasa Arab, tidak terkecuali di madrasah diniyah maupun pesantren, madrasah diniyah dan pesantren yang di tempati siswa hanya mengajarkan mufrodat dan ilmu alat, untuk muhadasahnya belum diterapkan.[18]

3.      Sekolah

Berbeda dengan lingkungan keluarga dan masyarakat. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan pendidikan yang lebih terencana, teratur, dan terarah. Lingkungan ini meliputi seluruh aspek yang terkait dengan proses belajar mengajar. Sekolah yang mewajibkan para siswanya untuk menggunakan bahasa Arab setiap harinya dapat dipastikan akan membantu kemajuan siswa-siswanya dalam hal penguasaan bahasa Arab, baik secara aktif maupun pasif.

Sebaliknya, berdasarkan wawancara dengan beberapa pihak terkait dan observasi ke MTs Asyafi’iyah Pecangakan tidak menemukan hal-hal yang demikian. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya adalah walaupun MTs Asyafi’iyah Pecangakan berazaskan Islam, akan tetapi dari pihak sekolah belum mewajibkan siswanya untuk berbahasa Arab setiap harinya sebagai bahasa resmi di sekolah tersebut. Begitu juga antara guru dengan guru dan guru dengan karyawan, karena guru dan karyawan berasal dari lingkungan pendidikan yang berbeda sehingga apabila bahasa Arab digunakan sebagai bahasa wajib maka justru akan menyulitkan dalam berkomunikasi.[19]

e.       Sarana dan prasarana kurang memadai

Sarana dan prasarana merupakan alat penunjang keberhasilan kegiatan belajar dan mengajar di sekolah. Fasilitas yang dimiliki sekolah untuk menunjang pembelajaran masih terbatas antara lain CD, TV, alat peraga, dan proyektor. Sedangkan laboratorium bahasa madrasah belum tersedia. Padahal ini penting, karena dengan laboratorium bahasa siswa dapat belajar mendengarkan dan berbicara serta kemahiran lain berbahasa dengan konsentrasi dan anak akan terfokus pada pembelajaran Hal ini disampaikan oleh karyawan bagian tata usaha bahwa di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan dirasa masih kurang sarana dan prasarana lain dan dan perlunya perbaikan.[20]

C.    Analisis Upaya-Upaya Untuk Mengatasi Problematika Pembelajaran Bahasa Arab

1.      Problem Linguistik

a.       Mengatasi siswa yang kurang mengenali bentuk atau tulisan huruf Arab, belum bisa membaca tulisan Arab. usaha yang dilakukan guru dalam mengatasi problem tersebut adalah memberikan pelajaran tambahan khusus membaca al-Quran di pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai. Hal ini sudah menjadi program sekolah dan dilaksanakan setiap hari senin sampai jumat dengan harapan siswa yang belum bisa membaca tulisan Arab menjadi bisa.

b.      Upaya yang dilakukan guru untuk siswa yang kesulitan menulis dengan dikte yaitu setiap pembelajaran bahasa Arab guru melatih anak menulis Arab dengan dikte/imla minimal 2 kata dengan cara guru menulis di papan tulis dan diperlihatkan kepada siswa kemudian menyuruh siswa untuk menuliskannya kembali di buku tulisnya. Hal ini dilakukan guru supaya siswa dapat menulis bahasa Arab dengan baik dan benar.

c.       Agar siswa  tidak kesulitan dalam mengartikan bacaan, guru bahasa Arab selalu memberikan tugas di luar kelas untuk menghafal mufrodat dan menterjemahkan suatu kalimat. Misalnya dengan menyebutkan benda-benda yang ada di dalam kelas. Hal ini bertujuan agar dapat memperkaya kosakata bahasa Arab siswa.

d.      Mengatasi siswa yang kesulitan menyusun kalimat dengan jenis kata kerja yang tepat yaitu setiap pertemuan, guru bahasa Arab memberikan tugas di rumah untuk menghafalkan tasrif baik istilahi maupun lughawi dan setoran di tiap pembelajaran hari berikutnya. Hal ini bertujuan agar siswa tidak kesulitan dalam menyusun kalimat dengan kata kerja yang benar. Selain dari upaya tentang problematika linguistik tersebut, alangkah baiknya apabila dari pihak sekolah mengupayakan jam tambahan untuk belajar ilmu nahwu dan sharf agar siswa benar-benar menguasai tata bahasa Arab.

2.      Problem non longuistik

a.       Siswa

1.      Upaya guru bahasa Arab untuk mengatasi problem yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan yang berbeda yaitu dengan sering memberikan tugas pekerjaan rumah termasuk tugas menghafalkan mufrodat.[21] Dalam hal ini guru ingin menyamakan kemampuan siswa antara siswa yang berlatar belakang SD maupun MI. Sedangkan dari pihak madrasah sendiri berupaya mengklasifikasikan siswa yang mempunyai kemampuan bahasa Arab lebih baik di tempatkan di kelas A dan yang mempunyai kemampuan bahasa Arab lebih rendah di tempatkan di kelas B.[22] Menurut penulis, lembaga sekolah yang baik bukanlah sekolah yang menerima siswa berkemampuan luar bias dan lulus dengan kemampuan luar biasa pula, akan tetapi sekolah yang baik adalah sekolah yang menerima siswa yang berkemampuan biasa dan lulus dengan kemampuan luar biasa.

2.      Mengatasi siswa yang kurang motivasi untuk belajar bahasa Arab yaitu dengan selalu memberi motivasi kepada siswa sebelum dan sesudah pelajaran untuk selalu berlatih dan tidak putus asa serta dalam belajar bahasa Arab tidak boleh dijadikan beban karena ilmu yang nantinya diperoleh akan sangat berharga sebagai bekal hidup di masyarakat dan bekal ibadah kepada Allah SWT.[23] Dalam hal ini yang berperan utama adalah guru mata pelajaran bahasa Arab agar tidak bosan-bosan memberi motivasi kepada siswa untuk bersemangat dalam belajar bahasa Arab.

b.      Waktu pembelajaran yang kurang

Berkaitan dengan problem kurangnya waktu, Kepala Madrasah menjelaskan selama ini pembelajaran bahasa Arab sudah ditambah menjadi 3 jam pelajaran per minggu ditambah ekstra membaca al-Quran selama 30 menit sebelum pelajaran pertama dimulai dan hal ini sebenarnya sudah melebihi dari standar waktu pembelajaran bahasa Arab menurut kementerian Agama yang hanya 2 jam pelajaran. Selain itu, pemberian jam pelajaran membaca al-Quran yang diadakan setengah jam sebelum pelajaran pertama dimulai diharapkan efektif untuk menambah kemampuan membaca tulisan Arab siswa. Namun menurut penulis dengan diadakannya jam tambahan tersebut siswa wajib mengikuti dan harus menjadi program sekolah yang berkesinambungan.

c.       Guru

1.      Kualifikasi ijazah guru yang belum sesuai

Problem kualifikasi ijazah yang berpengaruh kepada kompetensi belum mendapat perhatian dari pihak madrasah, dengan alasan selama ini pembelajaran masih bisa dilaksanakan dengan baik dan juga kondisi keuangan madrasah yang belum stabil.[24] Seharusnya dari pihak sekolah, kualifikasi guru yang sesuai dengan lulusan  dianggap sesuatu yang penting sehingga guru-guru di MTs Asy Syafi’iyah harus mengampu sesuai dengan bidangnya masing-masing karena guru adalah ujung tombak dalam meningkatkan kualitas dan keberhasilan pendidikan.

2.      Kurang membiasakan siswa berbicara bahasa Arab di kelas

Upaya yang dilakukan guru yaitu dengan membiasakan anak berbicara bahasa Arab ketika pembelajaran berlangsung dengan kalimat pendek seperti فهمتم dan ماسمك dan menanyakan kabar  كيف حالك  dan menyapa siswa dengan  صباح الخير  pada awal pembelajaran. Karena dengan cara berbicara bahasa Arab secara langsung siswa akan terbiasa dengan percakapan bahasa Arab dan tidak asing lagi dengan bahasa Arab. meskipun demikian, sebaiknya guru tidak hanya membiasakan berbicara bahasa Arab dengan kata-kata sapaan saja, akan tetapi lebih kepada percakapan sehari-hari seperti ما هذا؟, هل عندك السؤال؟, ماذا تفعل؟ karena bahasa akan menjadi mudah karena terbiasa.

3.      Kurang menggunakan variasi metode

Berkaitan dengan problem kurang menggunakan variasi metode, guru bahasa Arab menjelaskan akan menggunakan variasi metode yang lebih aplicable, efektif, dan efisien. Sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan hasil belajar siswa dapat dicapai secara optimal dan memuaskan. [25] Namun, penggunaan variasi metode tersebut akan lebih berhasil apabila didukung oleh media pendidikan yang fungsi salah satunya yaitu mengatasi keterbatasan waktu, karena semakin banyak seorang guru menggunakan variasi metode, maka akan semakin banyak menyita waktu. Selain itu, guru yang menggunakan variasi metode juga sering kesulitan seperti membuat power poin, alat peraga, dan lain-lain dan seorang guru harus lebih banyak mempersiapkan bahan ajar ketika menggunakan variasi metode dibandingkan ketika guru menggunakan satu metode belajar saja.

d.      Lingkungan

1.      Keluarga

Untuk mengatasi kurangnya perhatian orang tua siswa setiap kesempatan mengundang wali murid, baik ketika penerimaan nilai hasil ulangan maupun pada kesempatan lain selalu dipesankan kepada orang tua agar lebih memperhatikan kemajuan belajar anak terutama untuk pelajaran bahasa Arab.[26] Cara tersebut dapat dikatakan baik, akan tetapi yang lebih efektif adalah sering-seringlah guru bersilaturahmi kepada orang tua siswa baik secara langsung maupun tidak langsung seperti lewat media sosial, sehingga terjalin komunikasi yang terus-menerus antara guru dengan orang tua siswa untuk saling bekerjasama dalam memantau perkembangan belajar anaknya.

2.      Masyarakat

Persoalan lingkungan masyarakat belum ada tindakan yang diupayakan oleh sekolah karena diperlukan adanya kerjasama dan dukungan dari masyarakat desa Pecangakan. Hal ini merupakan persoalan yang harus segera dicari solusinya agar warga masyarakat sekitar desa Pecangakan dapat turut serta memberi sumbangsih, demi kelancaran kegiatan belajar mengajar di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan.

3.      Sekolah

Berdasarkan wawancara dengan beberapa pihak terkait dan observasi ke MTs Asyafi’iyah Pecangakan dari pihak sekolah belum mewajibkan siswanya untuk berbahasa Arab setiap harinya sebagai bahasa resmi di sekolah tersebut. Begitu juga antara guru dengan guru dan guru dengan karyawan, hal ini dikarenakan guru dan karyawan berasal dari lingkungan pendidikan yang berbeda sehingga apabila bahasa Arab digunakan sebagai bahasa wajib maka justru akan menyulitkan dalam berkomunikasi dan berdasarkan data siswa sebanyak 94% siswa menyatakan bahwa di sekolah tidak ada anjuran memakai bahasa Arab .[27] hal ini merupakan hambatan sekolah yang harus segera dibenahi, karena bahasa sangat erat kaitannya dengan kebiasaan. Jika bahasa Arab sudah menjadi bahasa wajib di sekolah, maka siswa tentu akan berusaha membiasakan untuk berbicara bahasa Arab, meskipun pada awalnya sulit.

e.       Sarana dan prasarana

Permasalahan kurangnya sarana dan prasarana sekolah dalam hal ini pihak sekolah berupaya untuk terus melengkapi dan memperbaiki sarana dan prasarana untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar yang lebih baik, walaupun masih sulit karena status sekolah sendiri yang masih berstatus swasta. Padahal sarana dan prasarana adalah sesuatu yang sangat penting terutama laboratorium bahasa karena dengan laboratorium bahasa siswa dapat belajar mendengarkan dan berbicara serta kemahiran lain berbahasa dengan konsentrasi dan anak akan terfokus pada pembelajaran.

Demikian analisis dari penulis berkaitan dengan proses pembelajaran, problematika, dan solusi menyelesaikan problematika pembelajaran bahasa Arab di MTs Pecangakan.



 

[2] Observasi pembelajaran bahasa Arab yang dilakukan oleh bapak Agus Yandi di kelas IXA MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 16 Agustus 2017

[3] Wawancara dengan Bapak Agus Yandi guru bahasa Arab MTs Asyafi’iyah  pada tanggal 16 Agustus 2017

[4] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1996, hal. 121

[5] Observasi pembelajaran bahasa Arab yang dilakukan oleh bapak Agus Yandi di kelas IXB MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 10 Agustus 2017

[6] Wawancara dengan bapak Agus Yandi guru bahasa Arab MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 15 Agustus 2017

[7] Wawancara dengan bapak Agus Yandi guru bahasa Arab MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 15 Agustus 2017

[8] Observasi pembelajaran bahasa Arab di kelas IXB pada tanggal 16 oktober 2017

[9] Syamsuddin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 72

[10] Sadirman, A.M, Interaksi Dan Motivasi Dalam Mengajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 123

[11] Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 163

[12] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa, ( Malang: Misykat, 2005,  Cet. Ke-3), hlm. 23

[13] Observasi pembelajaran bahasa Arab di kelas IXB pada tanggal 16 Agustus 2017

[14] Asra Sumiati, Metode Pembelajaran (Bandung: Wacana Prima, 2008), cet. Ke-2 hlm. 91

[15] Wawancara dengan bapak Agus Yandi guru MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 15 Agustus 2017

[16] Wawancara dengan Rizka Inayah dan Sufchul Ladzati siswa kelas IXA MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan  pada hari tanggal 08 Oktober 2017

[17] Observasi di lingkungan sekitar desa Pecangakan pada tanggal 15 Oktober 2017

[18] Wawancara dengan bapak Agus Yandi guru bahasa Arab MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 16 Agustus 2017

[19] Observasi di ruang guru MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 7 Agustus 2017

[20] Wawancara dengan bapak Akrom Hasani karyawan bagian tata usaha di MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 16 Agustus 2017

[21] Wawancara dengan bapak Agus Yandi guru MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 12 September 2017

[22] Wawancara dengan bapak Ahmad Fauizi kepala sekolah MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 7 Agustus 2017

[23]  Wawancara dengan bapak Agus Yandi guru bahasa Arab di  MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 24 Agustus 2017

[24] Wawancara dengan bapak Ahmad Fauzi kepala sekolah MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan  pada tanggal 29  Agustus 2017

[25] Wawancara dengan bapak Agus Yandi guru bahasa Arab di  MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 24 Agustus 2017

[26] Wawancara dengan bapak Ahmad Fauzi kepala sekolah MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan  pada tanggal 29  Agustus 2017

[27] Observasi di ruang guru MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan pada tanggal 7 Agustus 2017 dan data siswa MTs Asy Syafi’iyah Pecangakan

Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Transliterasi Arab Latin

Fungsi Hadits

Bolehkah Berdebat