Contoh Skripsi Bahasa Arab Bab 2
BAB II
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
A. Pembelajaran
Bahasa Arab
1. Pembelajaran
Pembelajaran
berasal dari kata dasar “ajar” yang ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran
”an” sehingga menjadi satu kata yang utuh yaitu “pembelajaran” yang berarti
proses, perbuatan, cara mengajar, atau mengajarkan sehingga peserta didik mau
belajar.[1]
Sedangkan
pembelajaran bahasa asing adalah kegiatan mengajar yang dilakukan secara
maksimal oleh seorang guru agar peserta didik yang diajari mampu melakukan
kegiatan belajar dengan baik, sehingga kondusif untuk mencapai tujuan belajar
bahasa asing.[2]
Dengan
demikian, belajar bahasa adalah proses terjadinya perubahan kebahasaan
seseorang yang relatif menetap dan dihasilkan dari pengalaman berupa latihan
kebahasaan atau interaksi kebahasaan.[3]
2. Bahasa Arab
Dalam Al-mu’jam
al-wasith disebutkan:
اللغة هي أصوات يعبر بها كل قوم عن أعراضهم
Artinya:
Bahasa adalah suara-suara yang diungkapkan
oleh setiap masyarakat untuk menyampaikan maksud-maksud mereka.[4]
Menurut Ahmad al-Hasyimyi:
اللغة العربية هي اصوات مختوية بعض الحروف
الهجائية
Artinya:
Bahasa Arab adalah suara-suara yang mengandung
sebagian huruf hijaiyyah.[5]
Sedangkan menurut Syaikh Mustafa al-Gulayayni:
اللغة العربية هي الكلمات التي يعبر بها العرب
عن اعراضهم
Artinya:
Bahasa Arab adalah kalimat yang dipergunakan
oleh bangsa Arab dalm mengutarakan maksud atau tujuan mereka.[6]
Devinisi lain
menjelaskan bahwa bahasa Arab adalah bahasa al-Quran dan al-Hadis. Keduanya
adalah dasar ajaran Islam serta bahasa kebudayaan Islam seperti filsafat, ilmu
kalam, ilmu hadis, tafsir, dan lain sebagainya.[7]
3. Karakteristik
bahasa Arab
Berikut beberapa karakteristik bahasa Arab
yang menjadi pembeda dengan bahasa lainnya:
a.
Bahasa Arab memiliki gaya bahasa yang beragam
Ragam yang dimiliki bahasa Arab adalah ragam
sosial atau sosialek, geografis, dan idiolek. Ragam sosialek merupakan ragam
bahasa yang menunjukkan stratifikasi sosial-ekonomi penuturnya. Sedangkan ragam
geografis adalah keberagaman bahasa yang disebabkan oleh perbedaan wilayah
geografis penuturnya dan keberagaman idiolek adalah yang berkaitan dengan
karakteristik pribadi penutur bahasa Arab yang bersangkutan.
b.
Bahasa Arab dapat diekspresikan baik secara lisan maupun
tulisan
Menurut Boomfred bahasa manusia yang paling
utama adalah bahasa lisan, sedangkan tulis hakikatnya merupakan turunan dari
bahasa lisan.
c.
Bahasa Arab memiliki sistem dan aturan yang spesifik
Bahasa Arab memiliki karakteristik yang
sistematik, tata bunyi, tata kata, sintaksis, dan lain-lain. Diakatakan
sistematik karena bahasa Arab mempunyai aturan-aturan yang khas yang antar sub
sistem bahasa saling melengkapi sesuai dengan fungsinya masing-masing.
d. Bahasa Arab memiliki sifat yang arbitrer
Artinya bahasa Arab juga memiliki sifat mana
suka seperti bahasa lainnya.
e. Bahasa Arab selalu berkembang, produktif dan
kreatif
Karakteristik yang dimiliki sifatnya selalu
berkembang, produktif, dan kreatif.
f. Bahasa Arab memiliki sifat yang khas
Bahasa Arab tetap konsisten dengan 29 huruf
yang dikenal dengan huruf hijaiyyah. Diantara 29 huruf, ada yang tidak dimiliki
oleh bahasa lain yang dilambangkan dengan huruf:ق خ,
ط, ظ, ع, غ, ذ, ض, ص, ث.
g. Bahasa Arab mempunyai sistem tulisan yang khas
Tulisan bahasa Arab sudah barang tentu berbeda
dengan bahasa lainnya, karena karakteristiknya juga berbeda, misalkan pada
penulisannya, bahasa Arab dari segi arah ditulis dari kanan ke kiri, lambang
bunyi atau huruf maupun dalam hal syakal atau harakat.
h. Bahasa Arab mempunyai struktur kata yang bisa
berubah
Struktur bahasa kata bahasa Arab mempunyai
sistem akan kata dalam morfologinya, yang dikenal dengan tasrif, misalnya kata
(علم) bisa dibentuk kata (علماء, عالم, متعلم, معلم, استعمل).
i.
Bahasa Arab memiliki sistem i’rab
I’rab adalah perubahan bunyi atau harakat
akhir suatu kata yang diakibatkan karena kedudukan kata tersebut dalam struktur
kalimat/frase atau karena ada kata tugas yang mengawalinya.
j.
Bahasa Arab sangat menekankan konformitas pada unsurnya
Bahasa Arab memiliki pembagian kata berdasarkan
jenis dan jumlah bilangan, misalnya mu’anas, mudzakar, jama’, dan mufrad.
Dimana masing-masing juga memiliki tata aturan pembentuknya sendiri.
k. Bahasa Arab memiliki makna majazi yang sangat
kaya
Makna kosakata bahasa Arab sering berbeda
antara makna kamus dan makna yang dikehendaki dalam konteks kalimat tertentu.[8]
4. Tujuan
pembelajaran bahasa Arab
Tujuan belajar
mengajar pada esensinya merupakan perubahan tingkah laku yang diinginkan pada
bidang-bidang individu, sosial, dan profesional. Tujuan belajar mengajar
berfungsi menentukan ke arah mana subyek didik akan dibawa.[9]
Sedangkan
tujuan pendidikan nasional adalah berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang maha esa ,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.[10]
Senada dengan
rumusan diatas, Kementerian Agama menjelaskan bahwa tujuan umum pembelajaran
bahasa Arab adalah:
1.
Untuk dapat memahami al-Quran dan al-Hadis sebagai sumber
ajaran Islam
2.
Untuk dapat memahami buku-buku agama dan kebudayaan
Islam yang ditulis dalam bahasa Arab
3.
Untuk dapat bicara dan mengarang bahasa Arab
4.
Untuk dapat digunakan sebagai alat pembantu keahlian lain
5.
Untuk membina ahli bahasa Arab, yakni benar-benar profesional.[11]
Sementara itu,
menurut Mahmud Yunus dalam bukunya “Metode Khusus Bahasa Arab” mengatakan bahwa
tujuan mempelajari bahasa Arab adalah supaya paham dan mengerti apa-apa yang
dibaca dalam salat, mengerti membaca al-Quran agar dapat mengambil petunjuk dan
pelajaran daripadanya, kemudian dapat mempelajari ilmu-ilmu agama Islam dari
sumber aslinya yang berbahasa Arab , serta dapat berbicara bahasa Arab untuk
berhubungan dan berkomunikasi langsung dengan kaum muslimin di luar negeri.
Bahasa Arab adalah bahasa masa sekarang yang telah menjadi bahasa ilmiah.[12]
Dalam kurikulum
bahasa Arab untuk Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah juga disebutkan
bahwa tujuan pengajaran bahasa Arab adalah agar para siswa memiliki kemahiran
berkomunikasi menggunakan bahasa Arab, baik dalam komunikasi aktif maupun
reseptif atau pasif. Kemahiran berbahasa Arab itu dijabarkan dalam kemahiran
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis bahasa Arab.[13]
B. Problematika
Pembelajaran Bahasa Arab
Problematika berasal dari bahasa Inggris “problem”
yang berarti soal, masalah, persoalan. Apabila dibentuk dari kata sifat
berubah menjadi “problematic” yang berarti persoalan.[14]
Kemudian kata tersebut mengalami penyerapan ke
dalam bahasa Indonesia menjadi “problematika” yang mempunyai arti sesuatu hal
yang menimbulkan masalah atau suatu hal yang belum bisa dipecahkan.[15]
Menurut Drs. H. Syamsudin Asyrofi dalam
bukunya yang berjudul Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, problematika yang
sering muncul dalam pembelajaran bahasa Arab adalah problematika linguistik,
metodologis dan sosiologis. Adapun yang termasuk problem linguistik yaitu:
1.
Gaya bahasa yang beragam
2.
Bersifat arbitrer
3.
Bersistem yang spesifik
4.
Sistem bunyi dan tulisan yang khas
5.
Struktur bisa berubah
6.
Serta bahasa Arab memiliki sistem i’rab
Kemudian
problematika pembelajaran yang bersifat metodologis yaitu:
1.
Materi kurikulum
2.
Alokasi waktu
3.
Tenaga pengajar
4.
Siswa
5.
Metode
6.
Media pembelajaran
7.
Evaluasi pendidikan
Sedangkan problematika
pembelajaran yang bersifat sosiologis yaitu:
1.
Kebijakan pemerintah
2.
Sikap masyarakat terhadap kedudukan bahasa Arab
3.
Lingkungan sekitar[16]
Sedangkan
menurut Nazri Syakur dalam bukunya yang berjudul “Revolusi Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab” mengemukakan bahwa permasalahan yang dihadapi dalam
pembelajaran bahasa Arab seperti bahasa asing lainnya, meliputi dua hal:
permasalahan kebahasaan dan non kebahasaan. Permasalahan non kebahasaan ada
yang bersifat sosiologis, psikologis, dan metodologis. Adapun permasalahan
kebahasaan berkaitan dengan unsur-unsur bahasa: tata bunyi, kosakata, tata
kalimat, makna, dan tulisan.[17]
1.
Permasalahan kebahasaan (linguistik)
Linguistik dalam bahasa Arab disebut علم اللغة adalah ilmu kebahasaan yang meliputi bidang
tata bunyi, fonetik, morfologi, sintaksis, dan semantik. Keempat aspek ini
memiliki problema tertentu dalam pengajaran bahasa Arab. ilmu al-lughah adalah
ilmu yang mengkaji bahasa, baik secara sinkronis, diakronis, maupun komparatis. [18]
Bahasa apapun di dunia memiliki beberapa aspek
bahasa dan antara yang satu dengan yang lainnya tidak boleh dipisah-pisahkan
dalam mempelajari dan mengajarkannya. Termasuk bahasa Arab. aspek-aspek ini
meliputi aspek tata bunyi, aspek kosakata, aspek tata kalimat, aspek
semantik/arti, dan aspek sosio-kultural.
1.
Aspek fonologi.
Fonologi
dimaknai sebagai ilmu tentang bunyi bahasa, terutama yang mencakup sejarah dan
teori perubahan bunyi.[19]
Terkait dengan aspek bunyi, Yayan Nurbayan
menjelaskan bahwa metode paling baik untuk menjelaskan perbedaan antara
dua bunyi adalah dengan tsunaiyatus shughro, yaitu dua kata yang berbeda
dalam makna akan tetapi ada kemiripan dalam pengucapannya. Perbedaanya hanya
dalam satu bunyi, contohnya:سال, زال bunyi yang berbeda bisa pada awal, tengah,
maupun akhir.[20]
2. Aspek Mufradat
Kosakata atau mufradat sama dengan
perbendaharaan kata. Ditinjau dari segi bahasa, kata mufradat merupakan bentuk
dari kata mufradah. Diartikan sebagai satuan atau unit bahasa yang tersusun
secara horizontal sesuai dengan sistem gramatika (nahwu) tertentu yang
berfungsi sebagai pembentuk kalimat. Kosakata juga merupakan salah satu unsur
bahasa yang sangat penting karena berfungsi sebagai pembentuk ungkapan atau
kalimat dan wacana.
Sedemikian pentingnya kosakata atau
mufradat sehingga ada yang berpendapat bahwa pembelajaran bahasa Arab harus
dimulai dengan mengenalkan dan membelajarkan kosakata atau mufradat itu baik
dengan cara dihafal ataudengan cara yang lain. Namun demikian, pembelajaran
kosakata atau mufradat tidaklah identik dengan bahasa itu sendiri, karena
kosakata atau mufradat tidak akan bermakna dan memberi pengertian kepada
pendengar atau pembacanya jika tidak dirangkai pada sebuah kalimat yang benar
dan kontekstual. Menurut gramatika dan sistem semantik yang baku.[21]
Dengan karakter bahasa Arab yang
pembentukan katanya beragam dan fleksibel tersebut, problem pengajaran kosakata
bahasa Arab akan terletak pada keanekaragaman bentuk marfologis (wazan) dan
makna yang dikandungnya, serta akan terkait dengan konsep-konsep perubahan
derivasi, perubahan infleksi, kata kerja (af’al atau verb), mufrad (simular),
mutsana (dual), jamak (plural), ta’nis (feminine), tazkir (masculine), serta
makna leksikal dan fungsional. Misalnya kata تناول maknanya
tidak sekedar “makan” dan “minum” semata, melainkan dapat diartikan
“mengambil,” meraih”, “menerima”, dan sebagainya.[22]
3. Aspek tata kalimat (sintaksis)
Tata kalimat adalah pelajaran mengenai
susunan kalimat dalam bahasa Arab, pengaturan antar kata dalam kalimat atau
antar kalimat dalam klausa atau wacana merupakan kajian ilmu nahwu. Bahkan
hubungan itu tidak hanya menimbulkan makna gramatika, akan tetapi juga
mempengaruhi garis akhir masing-masing kata yang kemudian disebut i’rab.[23]
Ilmu nahwu adalah ilmu yang mengandung sejumlah kaidah yang digunakan untuk
mengetahui posisi kata bahasa Arab dalam kalimat, seperti i’rab, bina, dan
mencakup hal-hal yang lain seperti المطبقة (kesesuaian) dan الموقعية(letak penempatan
kata).
Contoh المطبقة
antara مبتدأ
dan خبر
التلاميذ مجتهدون. التلميذان مجتهدان. التلميذ مجتهد
Contoh المطبقة
antara صفة dan
موصوف
التلميذة مجتهدة
ناجحة[24]
4. Aspek semantik atau arti
Dalam bahasa
Arab, istilah ini dikenal علم المعنى
atau علم الدلالة. Samantik adalah
bagian dari linguistik yang mempelajari teori makna. Semantik atau arti juga
diartikan ilmu yang mengajarkan tentang seluk beluk dan pergeseran arti
kata-kata.[25] Bahasa adalah
simbol bunyi yang mempunyai arti dan digunakan oleh sekelompok manusia untuk
mengungkapkan isi hatinya. Simbol-simbol bunyi yang tersusun secara sistematis
dalam kata atau kalimat tidak akan berfungsi secara risalah apabila tidak
memperhatikan arti atau semantik.
5. Aspek sosio-kultural
Bahasa adalah
sesuatu yang lahir dari masyarakat dan merupakan salah satu aspek sosial.
Bahasa adalah cerminan suatu bangsa pemakai bahasa. Mempelajari suatu bahasa
berarti mempelajari kultur bangsa suatu penutur bahasa itu. Faktor
nonlinguistik yang dianggap sebagai sebab timbulnya problem dalam pendikan
bahasa Arab antara lain: perbedaan sosio kultural bangsa Arab dengan sosio
kultural pelajar (Indonesia), sarana dan prasarana fisik, serta tempat dan
waktu.[26]
2.
Permasalahan Non Kebahasaan (non linguistik)
Diantara permasalahan non kebahasaan yang
sangat penting dan perlu diungkapkan adalah yang bersifat sosiologis,
psikologis dan metodologis. Kesemuanya akan dibahas berikut ini:
a.
Posisi marjinal bahasa Arab
Dalam dokumen
politik bahasa nasional (PBN) tahun 1975 (masa orde baru), bahasa Arab sama
sekali tidak disebut dalam rumusan mengenai bahasa asing tertulis, di dalam
hubungannya dalam bahasa Indonesia, bahasa-bahasa seperti Inggris, Perancis,
Jerman, Belanda, dan bahasa lainnya, kecuali Indonesia dan bahasa daerah serta
bahasa Melayu berkedudukan sebagai bahasa asing.
Kedudukan ini
didasarkan atas kenyataan bahwa bahasa asing tertentu itu diajarkan di
lembaga-lembaga pendidikan pada tingkat tertentu. Kedudukan bahasa Arab sebagai
bahasa asing dapat disimpulkan secara implisit dari frasa dan bahasa lainnya.
Rumusan tersebut disetujui atau tidak, telah mendudukkan bahasa Arab dalam
posisi marjinal (terpinggirkan). Imbasnya sangat luas (khususnya di lingkungan
Kemdikbud). Antara lain, diabaikannya bahasa Arab dalam pembukaan program studi
di perguruan tinggi. Penyusunan kurikulum di sekolah, pengadaan sarana
penunjang pengajaran, program pengembangan sumber daya manusia, dan sebagainya.
Tidak
disebutnya bahasa Arab dalam rumusan PBN tersebut jelas merupakan pengingkaran
terhadap kenyataan bahwa bahasa Arab
adalah bahasa asing yang paling banyak dipelajari di tanah air, dibandingkan
bahasa-bahasa asing lainnya, kecuali bahasa Inggris. Ditinjau dari fungsinya,
bahasa asing adalah sebagai:
1.
Alat penghubung antar bangsa
2.
Alat pembantu pengembangan bahasa Indonesia
3.
Alat pemanfaatan iptek untuk pembangunan nasional.
Fungsi bahasa Arab seperti
dipaparkan sebelumnya sudah menjadi alasan untuk tidak memarjinalkannya dalam
politik bahasa nasional. Kenyataan seperti itu tampaknya telah mulai disadari
sejak bergulirnya masa reformasi. Karena itu, diantara rumusan hasil seminar “Politik
Bahasa Nasional” pada tahun 1999 adalah bahwa bahasa Arab telah di dudukkan
sebagai bahasa Asing kedua setelah bahasa Inggris. Bahasa Arab, disamping berkedudukan sebagai bahasa asing,
juga dinyatakan sebagai bahasa agama dan budaya Islam. Sastra Arab dinyatakan
sebagai salah satu sumber ilham dan sumber pemahaman terhadap karya sastra
Indonesia.
Pembelajaran bahasa Arab
juga dinyatakan secara eksplisit sebagai mata pelajaran wajib di sekolah yang
berdasarkan Islam sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah yang tidak
berazaskan Islam, dan dapat diberikan sebagai mata kuliah pada jenjang
pendidikan tinggi. [27]
3. Rendahnya motivasi dan minat berbahasa Arab
Motivasi
adalah motif yang telah aktif. Motif (tujuan) belajar bahasa Arab beraneka ragam. Mahmud Yunus
menyebutkan empat tujuan belajar bahasa Arab, yaitu:
a. Supaya paham dan mengerti dengan mendalam apa yang
dibaca dalam sembahyang
b. Supaya mengerti membaca al-Quran sehingga
dapat mengambil petunjuk dan pengajaran darinya
c. Supaya dapat belajar ilmu agam Islam dari
buku-buku yang dikarang dalam bahasa Arab
d. Supaya pandai berbicara dan mengarang dalam
bahasa Arab untuk berhubungan dengan kaum muslimin, karena bahasa Arab adalah bahasa
umat Islam di seluruh dunia.[28]
Sedangkan rendahnya motivasi atau minat belajar bahasa Arab
bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karena rendahnya penghargaan
kepada bahasa Arab yang menurut efendi disebabkan oleh beberapa hal, baik yang
obyektif mauun subyektif, misalnya:
a.
Pengaruh bawah sadar sebagian masyarakat Indonesia
(termasuk yang muslim) yang merasa rendah diri dengan segala sesuatu yang
berbau Islam dan Arab serta mengagungkan sesuatu yang berasal dari barat
b.
Sikap Islamopobia, yaitu perasaan cemas atau tidak suka
terhadap kemajuan Islam dan umat Islam, termasuk bahasa Arab karena bahasa Arab
dipandang identik dengan Islam
c.
Terbatasnya pengetahuan dan wawasan karena kurangnya
informasi yang disampaikan kepada khalayak mengenai kedudukan dan fungsi bahasa
Arab
d.
Kemanfaatan bahasa Arab dari tinjauan praktis pragmatis
memang rendah dibandingkan dengan bahasa asing lain terutama bahasa Inggris.[29]
Kalau memang demikian, antusiasme belajar bahasa Arab
sebagai alat perlu kiranya ditingkatkan. Hal ini bisa dicapai dengan dua cara
antara lain:
a) Cara langsung
Yaitu dengan memenfaatkan jasa para ulama untuk
menjelaskan arti penting bahasa Arab dalam mempelajari agama Islam, bekerja di
negara Arab, dan sebagainya
b) Cara tidak langsung
Yaitu dengan ikut serta bersama para da’i dan ulamamenyemarakan
dakwah, mencarikan peluang kerja di negara Arab, atau memanfaatkan para pejabat
dan pengusaha menarik investasi dari negar-negara Arab.
b.
Permasalahan metodologis
1. Tenaga pengajar atau Guru
Guru adalah
komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam usaha
pembentukan sumber daya manusia yang potensial. Oleh karena itu, guru harus
berperan aktif dalam menempatankan kedudukannya sebagai tenaga profesional
sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.[30]
Adapun yang
disebut sebagai guru profesional adalah guru yang mempunyai empat kompetensi
pokok, yaitu:
a. kompetensi pedagogis yaitu kemampuan yang
berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan mengelola pembelajaran yang
mendidik dan dialogis
b. kompetensi profesional yaitu kemampuan yang
menyangkut penguasaan materi pembelajaran
c. kompetensi personal yaitu kemampuan personal
yang menunjukkan kepribadian mantap, stabil, dewasa, arif, dan berakhlak mulia.
d. kompetensi sosial yaitu kemampuan pendidik
sebagai bagian dari masyarakat untuk bergaul secara efektif dengan peserta
didik, sesama pendidik, orang tua/ wali peserta didik dan masyarakat sekitar.[31]
Sedangkan guru
bahasa Arab yang profesional harus memiliki kualifikasi sebagai berikut:
1. Berlatar belakang pendidikan keguruan bahasa Arab
2. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang
bahasa Arab dan mahir berbahasa Arab
3. Memiliki pengetahuan tentang proses belajar
mengajar bahasa Arab dan mampu menerapkannya dalam pembelajaran
4. Memiliki semangat dan kesadaran untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesinya sesuai dengan perkembangan
zaman
Berdasarkan hasil penelitian terbatas dan
pengamatan yang dilakukan Effendy tahun 1991 secara langsung di lapangan,
ditemukan banyak guru bahasa Arab di jenjang pendidikan dasar dan menengah
tidak memenuhi persyaratan profesi. Data yang ditemukan menunjukkan bahwa para
guru bahasa Arab SMU se-Jawa Timur 33,4% berpendidikan SLTA atau Pesantren.
Adapun dari 66,6% yang berpendidikan tinggi hanya 22,2% yang berkualifikasi
sarjana pendidikan bahasa Arab. Keadaan serupa mungkin terjadi di daerah lain
(dan besar kemungkinan di lingkungan madrasah lebih parah lagi).[32]
2. Materi kurikulum
Kurikulum
berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “curir” yang berarti pelari.
Pada saat itu kurikulum diartikan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh
oleh siswa atau murid untuk mencapai ijazah.[33]
Problem
ketidaktercapaian tujuan pengajaran bahasa Arab di madrasah juga erat kaitannya
dengan materi kurikulum yang direncanakan. Materi kurikulum yang diterapkan
belum sepenuhnya mendukung ketercapain tujuan, mufrodat, maupun materi
yang lain yang kadang tidak singkron dengan tujauan yang akan dicapai.[34]
3. Siswa
Siswa merupakan
faktor yang paling penting dalam pendidikan, karena tanpa adanya faktor
tersebut, pendidikan tidak akan berlangsung. Siswa ini tidak dapat digantikan
oleh faktor lain. Hal itu disebabkan siswa adalah faktor utama dalam
pendidikan.
Sardiman
(2005), sebagaimana dikutip oleh Drs. H. Syamsudin Asyrofi, M.M. Siswa atau
subyek didik merupakan salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral
proses belajar mengajar. Siswa akan menjadi faktor penentu, sehingga menuntut
guru agar dapat memenuhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan
belajarnya. Jadi dalam proses belajar mengajar yang harus diperhatikan pertama kali adalah siswa.[35]
4. Alokasi waktu
Salah satu
problem yang juga sangat krusial dalam pembelajaran bahasa Arab adalah problem
alokasi waktu. Selama ini, mata pelajaran bahasa Arab di madrasah hanya diberi
alokasi waktu sekitar 2-3 jam pelajaran per minggu dengan durasi waktu 45 menit
per jam pelajaran. Dengan terbatasnya waktu yang tersedia, maka guru bahasa Arab
dituntut untuk mampu membuat desain pembelajaran yang efektif dan efisien agar
tujuan dan kompetensi dasar yang ditetapkan bisa tercapai. Tanpa langkah dan
upaya tersebut, sangat mungkin tujuan tidak akan tercapai.[36]
5. Metode
Metode mengajar
adalah jalan atau cara yang harus dilalui dalam dunia pendidikan dan
pengajaran. Metode mengajar dalam dunia pendidikan dan pengajaran berfungsi
sebagai salah satu alat (disamping alat lain misalnya, alat penilaian, alat
peraga), yaitu alat untuk mengajarkan bahwa pelajaran dalam tingkat pencapaian
tujuan pengajaran.[37]
Adapun pendapat
lain tentang metode adalah cara yang teratur yang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan mereka, guna mencapai tujuan.
Dengan kata lain bahwa metode adalah jalan menuju tujuan tertentu.[38]
Menurut Tayar
Yusuf dan Syaiful Anwar dalam bukunya “Metodologi Pengajaran Agama Bahasa
Arab”, ada beberapa metode pengajaran bahasa Arab, yakni:
a.
Metode bercakap-cakap (muhadatsah)
Metode muhadatsah yaitu cara menyajikan
bahan pelajaran bahasa Arab melalui percakapan, dalam percakapan itu, dapat
terjadi antara guru dengan murid atau antara murid dengan murid sehingga dapat
memperkaya perbendaharaan kata-kata (vocabulary).[39]
b.
Metode membaca (muthalaah)
Metode muthalaah yaitu cara menyajikan
pelajaran dengan cara membaca, baik membaca dengan bersuara maupun membaca
dalam hati. Melalui metode ini, diharapkan siswa dapat mengucapkan lafadz
kata-kata dan kalimat dalam bahasa Arab yang fasih, lancar dan benar. [40]
c.
Metode dikte (Imla)
Metode ini juga disebut metode menulis dimana
guru membacakan materi pelajaran dan siswa disuruh menulisnya di buku tulis. Imla
juga dapat dilakukan dengan cara guru menuliskan materi pelajaran imla
di papan tulis kemudian dihapus dan menyuruh siswa untuk menulisnya kembali di
buku tulisnya.[41]
d.
Metode mengarang (Insya)
Metode Insya yaitu cara menyajikan
bahan pelajaran dengan cara menyuruh siswa mengarang dalam bahasa Arab untuk
mengungkapkan isi hati, pikiran dan pengalaman yang dimilikinya. Melalui metode
ini diharapkan anak didik dapat mengembangkan daya imajinasi secara kreatif dan
produktif sehingga berpikirnya berkembang dan tidak statis.[42]
e.
Metode menghafal (mahfrudzat)
Metode mahfudzat atau menghafal yakni
cara menyajikan materi menghafal kalimat-kalimat berupa: syair, cerita,
kata-kata hikmah dan lain-lain yang menarik hati.[43]
f.
Metode tata bahasa (Qawaid)
Metode Qawaid yaitu cara menyajikan
pelajaran dengan jalan menghafal aturan-aturan atau kaidah-kaidah tata bahasa
Arab yang mencakup nahwu-sharaf. Metode Qawaid ini tidak jauh
berbeda dengan metode grammar, sebab cara menyajikan bahan pelajaran itu sama.[44]
Keenam metode
pengajaran bahasa Arab tersebut, mempunyai kesamaan dengan metode pengajaran
bahasa Asing lainnya, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Fuad Effendi dan
Fachruddin Djalal dalam bukunya “Pendekatan dan Teknik Pengajaran Bahasa Arab”,
yaitu sebagai berikut:
1.
Metode tata bahasa (grammar)
Metode grammar ialah cara menyajikan
bahan pelajaran dengan jalan menghafal aturan-aturan atau kaidah-kaidah tata
bahasa (nahwu-sharaf). Jadi di sini, anak didik diajarkan terlebih
dahulu grammar/tata bahasa, adapun pelajaran percakapan tidak
dipentingkan.[45]
2.
Metode terjemah (translation)
Metode translation yaitu metode
menerjemahkan dengan kata lain menyajikan pelajaran dengan menerjemahkan
buku-buku bacaan berbahasa Asing ke dalam bahasa sehari-hari, dan buku bacaan
tersebut tentunya telah direncanakan sebelumnya.[46]
3.
Metode gramatika-terjemah (grammar-translation)
Metode ini merupakan gabungan dari metode
gramatika dan terjemah. Di sini siswa mempelajari kaidah-kaidah tata bahasa
dengan contoh-contoh yang meliputi analisa bacaan pendek yang mengilustrasikan
prinsip tata bahasa yang sedang diajarkan. Metode ini memberikan kesempatan
bagi siswa untuk menjalankan latihan penerjemahan dari bahasa asing ke dalam
bahasa pelajaran dan sebaliknya.[47]
4.
Metode langsung (direct method)
Metode langsung atau direct method
yaitu suatu cara penyajian materi pelajaran bahasa asing di mana guru langsung
menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa
menggunakan bahasa anak sedikitpun dalam mengajar.[48]
5.
Metode alamiah (natural method)
Metode ini lahir dari asumsi bahwa orang dapat
belajar bahasa asing sebagaimana ia belajar bahasa ibu. Secara garis besar
metode ini tidak banyak bedanya dengan metode langsung. Bahasa ibu sama sekali
tidak boleh dipakai selama proses belajar mengajar.[49]
6.
Metode psikologi (physycilogical method)
Pemakaian metode ini dalam pemakaian bahasa
asing terhadap siswa adalah sangat memperhatikan keadaan jiwa mereka, atau apa
yang disenangi mereka, atau suasana hati para murid pada umumnya.[50]
7.
Metode fonetik (phonetic method)
Metode ini menggunakan ear training dan
speak training yaitu cara menyajikan pelajaran bahasa asing melalui
latihan-latihan mendengarkan kemudian diikuti dengan latihan-;latihan
mengucapkan kata-kata dan kalimat dalam bahasa asing yang sedang dipelajari.[51]
8.
Metode membaca (reading method)
Metode membaca (reading method) yaitu
menyajikan materi pelajaran dengan cara terlebih dahulu mengutamakan membaca,
yakni guru mula-mula membacakan topik-topik bacaan, kemudian diikuti oleh siswa
atau menunjuk salah satu diantara siswa untuk membacakan pelajaran dan siswa
lain memperhatikan dan mengikuutinya.[52]
9.
Metode unit (unit method)
Unit artinya bagian-bagian yang memiliki
kesatuan lengkap dan bulat. Dengan kata lain metode unit merupakan suatu cara
menyajikan pelajaran bahasa asing melalui unit kesatuan pengertian yang utuh
dan lengkap.[53]
10. Metode pembatasan bahasa (language control
method)
Metode pembatasan bahasa adalah cara mengajar
bahasa yang didasarkan atas pemilihan kata-kata dan struktur kalimat dari segi
sering tidaknya pemakaian atau penggunaannya. Jadi, ciri pokok metode ini
adalah adanya pembatasan dan gradasi,
baik dalam kosakata maupun struktur kalimat yang diajarkan. Sedangkan
pengajaran yang baik menurut metode ini adalah
pengajaran yang dimulai dengan mudah dan sederhana, kemudian
berangsur-angsur beralih menuju materi yang lebih sulit dan kompleks.[54]
11. Metode mim-mem (mimicry-memorazation)
Mim-mem merupakan singkatan dari mimicry
atau meniru dan memrazation atau menghafal (pengingatan). Metode ini
sering dikenal juga sebagai informan-drill method.[55]
12. Metode praktek teori (practise_theory
method)
Metode ini mengutamakan praktek, baru kemudian
teori. Kalimat-kalimat contoh dihafalkan dengan cara mengulang-ulang secara
teratur dengan menirukan rekaman atau langsung dari native informant.
Kalimat-kalimat contoh tersebut kemudian dianalisa, baik secara fonetik mauun
struktural untuk mengemukakan teori atau kaidah-kaidahnya.[56]
13. Metode cognate (cognate method)
Metode ini menyajikan materi pelajaran bahasa
asing dengan mengutamakan inventarisasi kata-kata yang sama, huruf-huruf
ataupun arti yang sama dengan bahasa si anak didik yakni dalam hal ini bahasa
Indonesia. Sedangkan cognate sendiri mempunyai arti kata-kata yang
asalnya sama.[57]
14. Metode dwi bahasa (dual-langual method)
Metode ini merupakan metode lanjutan dari metode cognate, yakni bukan saja
menginventaris dan mengidentifikasi kata-kata atau arti yang sama, tapi lebih
jauh lagi, semua segi dibanding-bandingkan antara bahasa asing yang dipelajari
dengan bahasa asing anak didik. Dual berarti dwi-rangkap atau rangkap
dua., yakni bahasa asing yang sedang dipelajari dirangkapkan atau dibandingkan
dengan bahasa anak didik (bahasa Indonesia).[58]
15. Metode gabungan (electic method)
Electic artinya campuran, kombinasi atau gado-gado dalam bahasa
Indonesia (metode-metode pilihan). Jadi electic method yaitu cara
menyajikan bahan pelajaran bahasa asing di depan kelas dengan melalui kombinasi
dari berbagai metode, misalnya: dirrect method dengan grammar
translation method bahkan dengan
metode reading sekaligus dipakai/diterapkan dalam suatu kondisi
pengajaran.[59]
6. Media pembelajaran
a. Pengertian media
Kata “media“ berasal dari bahasa Latin
“medius” yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar.
Dalam bahasa Arab, media adalah perantara (wasilah) atau pengantar pesan dari pengirim
kepada penerima pesan.[60]
Tetapi secara lebih khusus, pengertian media dalam proses pembelajaran
diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk
menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.[61]
Selain pengertian diatas, masih ada
beberapa pengertian tentang media pengajaran, antara lain:
1.
Association for Education and Communcation Technology (AECT) mengartikan media sebagai segala bentuk
yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi.[62]
2.
National Education Association (NEA) mendifinisikan media merupakan benda
yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta
instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat
mempengaruhi efektifitas program instruksional.[63]
3.
Soeparno mengemukakan dalam bukunya “Media Pengajaran
Bahasa” bahwa media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel)untuk
menyampaikan suatu pesan (massage) atau informasi dari suatu sumber (ressource) kepada penerima (receiver).[64]
b. Fungsi dan manfaat media pengajaran
Pada awalnya media hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam kegatan belajar
mengajar yakni berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada
siswa dalam rangka mendorong motivasi belajar, memperjaelas dan mempermudah
konsep yang kompleks dan abstrak menjadi lebih sederhana, konkret, serta mudah
dipahami.[65] Dengan
demikian, media dapat berfungsi untuk mempertinggi daya serap dan retensi anak
terhadap materi pembelajaran sehingga dapat membuat pelajaran lebih menarik.[66]
Sedangkan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa, antara lain:
1.
Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga
dapat menumbuhkan motivasi belajar.
2.
Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat
lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan
pengajaran dengan lebih baik.
3.
Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata
komunikasi verbal melalui kata-kata guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru
tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.
4.
Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab
tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktifitas lain seperi
mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.[67]
Akan tetapi, selama ini guru bahasa Arab enggan membuat dan memanfaatkan
media pembelajaran yang ada. Mereka hanya memanfaatkan buku teks dan papan
tulis sebagai media pembelajarannya. Padahal jika mereka membuat kreatifitas,
mereka bisa membuat media yang murah atau memanfaatkan media pembelajaran yang
telah ada agar lebih menarik siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa Arab.[68]
7. Evaluasi pembelajaran
Evaluasi hasil belajar yaitu cara
tertentu yang digunakan untuk menilai suatu proses dan hasilnya. Dengan kata
lain, evaluasi merupakan suatu bagian pokok dalam pembelajaran yang memberikan
keuntungan bagi guru dan siswa.[69]
Oleh karena itu, evaluasi pembelajaran bahasa Arab sangat dibutuhkan untuk
mengukur sejauh mana tingkat keberhasilan pengajaran bahasa Arab.[70]
Dari pemaparan
tentang problematika pembelajaran bahasa Arab diatas, dapat disimpulkan secara
singkat sebagaimana bagan/skema berikut ini:
Problematika
Pembelajaran Bahasa Arab Problematika
Non Linguistik Problematika
Linguistik Posisi Marjinal Bahasa Arab Rendahnya Motivasi dan Minat
Berbahasa Arab Permasalahan Metodologis Fonologi Mufrodat sintaksis semantik Sosio-kultural Guru Waktu Siswa Metode Media Evaluasi Kurikulum
[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi IV 2008, hlm. 23
[2] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 32
[3] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm 29-30
[4] Ibrahim Mustafa dkk. al-Mu’jam al-Wasith,( Istanboul: Al-Maktaba
al-Islamiyah cet. Ke-4, 2004), hlm. 831
[5] Ahmad al-Hasyimi, al-Qowa’id al-Asasiyah li al-Lughat al-Arabiyah,
(Beirut: Dar al-Kutub al_Ilmiyyah, 1988)
hlm. 7
[6] Mustafa al-Gulayayni, Jami’ al-Durus al-Arabiyah, Jus I Cet. XXX,
(Beirut: al-Maktabah al-Asriyyah), 1994, hlm. 98
[7] Busayri Madjidi, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Yoyakarta:
Sumbangsih Offset, 1994), hlm. 1
[8] Abdul Munib, Strategi dan Kiat Menerjemahkan Teks Bahasa Arab kedalam Bahasa
Indonesia, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 41-50
[9] Amir Dien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha
Nasional, 1973), hlm. 44
[10] UU. RI. Nomor 20 tahun 2003 Tentang
SISDIKNAS, Bab II Pasal 3
[11] Departemen Agama, Kurikulum Iain/Stain, Tahun 1999 yang disempurnakan,
(Jakarta: Ditbinperta, 1997), hlm. 117
[12] Mahmud Yunus, Metode Khusus
Bahasa Arab, (Cet. Ke-1 Bandung:Hidyakarya, 1981), hlm. 77
[13] Syamsuddin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 70
[14] Jhon M. E. Cols dan Hasan Sadhali, Kamus Inggris Indonesia,
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1976), hlm. 448
[15] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
(Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 701
[16] Syamsuddin Asyrafi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta:
Idea Press, 2003), hlm. 59-74
[17] Nazri Syakur, Revolusi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta:
BiPA, 2010), hlm. 57
[18] Kamal Muhammad Bysr, Dirasat Fil ‘Ilm al-Lughah, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1969), hlm. 9
[19] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia.( Jakarta: 1988), hlm. 244
[20] Yayan Nurbayan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung, Zein
al-Bayan, 2008), hlm. 45
[21] Ahmad Fuad Effendi, Metodologi
Pengajaran Bahasa , hlm. 96
[22] Aziz Fahrurrozi dan Erta Mahyudin, Pembelajaran Bahasa Arab, (Cet.
Ke-2, Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik
Indonesia, 2012), hlm. 7
[23] Sahkholid, Pengantar Linguistik (Analisis Teori-Teori Linguistik Umum
Dalam Bahasa Arab), (Medan: Nara Press, 2006), hlm. 124
[24] Al-Syarif Ali Bin Muhammad al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifat, (Bairut:
Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988), hlm. 240
[25] Ahmad Mukhtar Umar, Ilmu Al-Dilalah, (Kuwait: Maktabah Dar
Al-Arabiyah, 1982), hlm. 11
[26] Urip Masduki, Problematika Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah,
Dalam Ikhlas Beramal, (Jakarta: Departemen Agama RI. Juni 1997), hlm. 53
[27] Nazri Syakur, Revolusi Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 58-62
[28] Mahmud Yunus, Metode Khusus Bahasa Arab, hlm. 78
[29] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa, ( Malang: Misykat,
2005, Cet. Ke-3), hlm. 91
[30] Sadirman, A.M, Interaksi Dan Motivasi Dalam Mengajar, (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 123
[31] Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2012), hlm. 163
[32] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa, hlm. 23
[33] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar
Baru Algensindo, 2010), hlm. 2
[34] Syamsudin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 72
[35] Syamsudin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 29
[36] Syamsuddin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 72
[37] S. Ulih Bukit Karo, Dkk. Suatu Pengantar Ke Dalam Metodolgi Pengajaran, (Salatiga:
C. V. Saudara, 1975), hlm. 5
[38] Ahmad Janan Asifudin, Mengungkit Pilar-Pilar Pendidikan Islam
(Tinjauan Filosofis), hlm. 110
[39] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa
Arab (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 191
[40] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa
Arab, hlm. 195
[41] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa
Arab, hlm. 200
[42] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa
Arab, hlm. 203
[43] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa
Arab, hlm. 205
[44] Fuad Effendy dan Fachruddin Djalal, Pendekatan Metode dan Teknik
Pengajaran Bahasa Arab (Malang: sub proyek penulisan buku pelajaran proyek
peningkatan perguruan tinggi IKIP Malang, 1981/1982), hlm. 27
[45] Fuad Effendy dan Fachruddin Djalal, Pendekatan Metode dan Teknik
Pengajaran Bahasa Arab, hlm. 27
[46] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa
Arab, hlm. 168
[47] Fuad Effendy dan Fachruddin Djalal, Pendekatan Metode dan Teknik Pengajaran
Bahasa Arab, hlm. 28
[48] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa
Arab, hlm. 152
[49] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa
Arab, hlm. 30
[50] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa
Arab, hlm. 32
[51] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa
Arab, hlm. 159
[52] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa
Arab, hlm. 162
[53] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa
Arab, hlm. 172
[54] Fuad Effendy dan Fachruddin Djalal, Pendekatan
Metode dan Teknik Pengajaran Bahasa Arab, hlm. 33
[55] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa
Arab, hlm. 174
[56] Fuad Effendy dan Fachruddin Djalal, Pendekatan
Metode dan Teknik Pengajaran Bahasa Arab, hlm. 33-34
[57] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa
Arab, hlm. 182
[58] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa
Arab, hlm. 180-181
[59] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa
Arab, hlm. 184
[60] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, hlm. 3
[61] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab , hlm. 223
[62] Yoto dan Saiful Rahman, Manajemen Pembelajaran (Malang: Yanizar
Group, 2001), hlm. 57
[63] Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat
Pers, 2002), hlm. 11
[64] Soeparno, Media Pengajaran Bahasa,(Yogyakarta: PT. Intan Pariwara,
1987), hlm. 1
[65] Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, hlm. 21
[66] Adjai Robinson, Asas-asas Praktik Mengajar (Jakarta: Bhratara,
1988), hlm. 75
[67] Nana Sudjana, Media Pengajaran
(Bandung: CV. Sinar Baru, 1990), hlm. 2
[68] Syamsuddin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 74
[69] Ahmad Munjin Nasih, Metode Dari Teknik Pembelajaran, (Bandung: PT.
Rafika Aditama, 2009), hlm. 125
[70] Syamsuddin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 75
Comments
Post a Comment