Contoh Skripsi Bahasa Arab Bab 2

 

BAB II

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

A.      Pembelajaran Bahasa Arab

1.      Pembelajaran

Pembelajaran berasal dari kata dasar “ajar” yang ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran ”an” sehingga menjadi satu kata yang utuh yaitu “pembelajaran” yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar, atau mengajarkan sehingga peserta didik mau belajar.[1]

Sedangkan pembelajaran bahasa asing adalah kegiatan mengajar yang dilakukan secara maksimal oleh seorang guru agar peserta didik yang diajari mampu melakukan kegiatan belajar dengan baik, sehingga kondusif untuk mencapai tujuan belajar bahasa asing.[2]

Dengan demikian, belajar bahasa adalah proses terjadinya perubahan kebahasaan seseorang yang relatif menetap dan dihasilkan dari pengalaman berupa latihan kebahasaan atau interaksi kebahasaan.[3]

2.      Bahasa Arab

Dalam Al-mu’jam al-wasith disebutkan:

اللغة هي أصوات يعبر بها كل قوم عن أعراضهم

Artinya:

Bahasa adalah suara-suara yang diungkapkan oleh setiap masyarakat untuk menyampaikan maksud-maksud mereka.[4] Menurut Ahmad al-Hasyimyi:

اللغة العربية هي اصوات مختوية بعض الحروف الهجائية

Artinya:

Bahasa Arab adalah suara-suara yang mengandung sebagian huruf hijaiyyah.[5] Sedangkan menurut Syaikh Mustafa al-Gulayayni:

اللغة العربية هي الكلمات التي يعبر بها العرب عن اعراضهم

Artinya:

Bahasa Arab adalah kalimat yang dipergunakan oleh bangsa Arab dalm mengutarakan maksud atau tujuan mereka.[6]

Devinisi lain menjelaskan bahwa bahasa Arab adalah bahasa al-Quran dan al-Hadis. Keduanya adalah dasar ajaran Islam serta bahasa kebudayaan Islam seperti filsafat, ilmu kalam, ilmu hadis, tafsir, dan lain sebagainya.[7]

3.      Karakteristik bahasa Arab

Berikut beberapa karakteristik bahasa Arab yang menjadi pembeda dengan bahasa lainnya:

a.       Bahasa Arab memiliki gaya bahasa yang beragam

Ragam yang dimiliki bahasa Arab adalah ragam sosial atau sosialek, geografis, dan idiolek. Ragam sosialek merupakan ragam bahasa yang menunjukkan stratifikasi sosial-ekonomi penuturnya. Sedangkan ragam geografis adalah keberagaman bahasa yang disebabkan oleh perbedaan wilayah geografis penuturnya dan keberagaman idiolek adalah yang berkaitan dengan karakteristik pribadi penutur bahasa Arab yang bersangkutan.

b.      Bahasa Arab dapat diekspresikan baik secara lisan maupun tulisan

Menurut Boomfred bahasa manusia yang paling utama adalah bahasa lisan, sedangkan tulis hakikatnya merupakan turunan dari bahasa lisan.

c.       Bahasa Arab memiliki sistem dan aturan yang spesifik

Bahasa Arab memiliki karakteristik yang sistematik, tata bunyi, tata kata, sintaksis, dan lain-lain. Diakatakan sistematik karena bahasa Arab mempunyai aturan-aturan yang khas yang antar sub sistem bahasa saling melengkapi sesuai dengan fungsinya masing-masing.

d.      Bahasa Arab memiliki sifat yang arbitrer

Artinya bahasa Arab juga memiliki sifat mana suka seperti bahasa lainnya.

e.       Bahasa Arab selalu berkembang, produktif dan kreatif

Karakteristik yang dimiliki sifatnya selalu berkembang, produktif, dan kreatif.

f.       Bahasa Arab memiliki sifat yang khas

Bahasa Arab tetap konsisten dengan 29 huruf yang dikenal dengan huruf hijaiyyah. Diantara 29 huruf, ada yang tidak dimiliki oleh bahasa lain yang dilambangkan dengan huruf:ق خ, ط, ظ, ع, غ, ذ, ض, ص, ث.

g.      Bahasa Arab mempunyai sistem tulisan yang khas

Tulisan bahasa Arab sudah barang tentu berbeda dengan bahasa lainnya, karena karakteristiknya juga berbeda, misalkan pada penulisannya, bahasa Arab dari segi arah ditulis dari kanan ke kiri, lambang bunyi atau huruf maupun dalam hal syakal atau harakat.

h.      Bahasa Arab mempunyai struktur kata yang bisa berubah

Struktur bahasa kata bahasa Arab mempunyai sistem akan kata dalam morfologinya, yang dikenal dengan tasrif, misalnya kata (علم) bisa dibentuk kata (علماء, عالم, متعلم, معلم, استعمل).

i.        Bahasa Arab memiliki sistem i’rab

I’rab adalah perubahan bunyi atau harakat akhir suatu kata yang diakibatkan karena kedudukan kata tersebut dalam struktur kalimat/frase atau karena ada kata tugas yang mengawalinya.

j.        Bahasa Arab sangat menekankan konformitas pada unsurnya

Bahasa Arab memiliki pembagian kata berdasarkan jenis dan jumlah bilangan, misalnya mu’anas, mudzakar, jama’, dan mufrad. Dimana masing-masing juga memiliki tata aturan pembentuknya sendiri.

k.      Bahasa Arab memiliki makna majazi yang sangat kaya

Makna kosakata bahasa Arab sering berbeda antara makna kamus dan makna yang dikehendaki dalam konteks kalimat tertentu.[8]

4.      Tujuan pembelajaran bahasa Arab

Tujuan belajar mengajar pada esensinya merupakan perubahan tingkah laku yang diinginkan pada bidang-bidang individu, sosial, dan profesional. Tujuan belajar mengajar berfungsi menentukan ke arah mana subyek didik akan dibawa.[9]

Sedangkan tujuan pendidikan nasional adalah berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang maha esa , berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,  dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[10]

Senada dengan rumusan diatas, Kementerian Agama menjelaskan bahwa tujuan umum pembelajaran bahasa Arab adalah:

1.    Untuk dapat memahami al-Quran dan al-Hadis sebagai sumber ajaran Islam

2.    Untuk dapat memahami buku-buku agama dan kebudayaan Islam  yang ditulis dalam bahasa Arab

3.    Untuk dapat bicara dan mengarang bahasa Arab

4.    Untuk dapat digunakan sebagai alat pembantu keahlian lain

5.    Untuk membina ahli bahasa Arab, yakni benar-benar profesional.[11]

Sementara itu, menurut Mahmud Yunus dalam bukunya “Metode Khusus Bahasa Arab” mengatakan bahwa tujuan mempelajari bahasa Arab adalah supaya paham dan mengerti apa-apa yang dibaca dalam salat, mengerti membaca al-Quran agar dapat mengambil petunjuk dan pelajaran daripadanya, kemudian dapat mempelajari ilmu-ilmu agama Islam dari sumber aslinya yang berbahasa Arab , serta dapat berbicara bahasa Arab untuk berhubungan dan berkomunikasi langsung dengan kaum muslimin di luar negeri. Bahasa Arab adalah bahasa masa sekarang yang telah menjadi bahasa ilmiah.[12]

Dalam kurikulum bahasa Arab untuk Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah juga disebutkan bahwa tujuan pengajaran bahasa Arab adalah agar para siswa memiliki kemahiran berkomunikasi menggunakan bahasa Arab, baik dalam komunikasi aktif maupun reseptif atau pasif. Kemahiran berbahasa Arab itu dijabarkan dalam kemahiran menyimak, berbicara, membaca, dan menulis bahasa Arab.[13]

B.     Problematika Pembelajaran Bahasa Arab

Problematika berasal dari bahasa Inggris “problem” yang berarti soal, masalah, persoalan. Apabila dibentuk dari kata sifat berubah menjadi “problematic” yang berarti persoalan.[14]

Kemudian kata tersebut mengalami penyerapan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “problematika” yang mempunyai arti sesuatu hal yang menimbulkan masalah atau suatu hal yang belum bisa dipecahkan.[15]

Menurut Drs. H. Syamsudin Asyrofi dalam bukunya yang berjudul Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, problematika yang sering muncul dalam pembelajaran bahasa Arab adalah problematika linguistik, metodologis dan sosiologis. Adapun yang termasuk problem linguistik yaitu:

1.         Gaya bahasa yang beragam

2.         Bersifat arbitrer

3.         Bersistem yang spesifik

4.         Sistem bunyi dan tulisan yang khas

5.         Struktur bisa berubah

6.         Serta bahasa Arab memiliki sistem i’rab

Kemudian problematika pembelajaran yang bersifat metodologis yaitu:

1.         Materi kurikulum

2.         Alokasi waktu

3.         Tenaga pengajar

4.         Siswa

5.         Metode

6.         Media pembelajaran

7.         Evaluasi pendidikan

Sedangkan problematika pembelajaran yang bersifat sosiologis yaitu:

1.         Kebijakan pemerintah

2.         Sikap masyarakat terhadap kedudukan bahasa Arab

3.         Lingkungan sekitar[16]

Sedangkan menurut Nazri Syakur dalam bukunya yang berjudul “Revolusi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab” mengemukakan bahwa permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran bahasa Arab seperti bahasa asing lainnya, meliputi dua hal: permasalahan kebahasaan dan non kebahasaan. Permasalahan non kebahasaan ada yang bersifat sosiologis, psikologis, dan metodologis. Adapun permasalahan kebahasaan berkaitan dengan unsur-unsur bahasa: tata bunyi, kosakata, tata kalimat, makna, dan tulisan.[17]

1.         Permasalahan kebahasaan (linguistik)

       Linguistik dalam bahasa Arab disebut علم اللغة  adalah ilmu kebahasaan yang meliputi bidang tata bunyi, fonetik, morfologi, sintaksis, dan semantik. Keempat aspek ini memiliki problema tertentu dalam pengajaran bahasa Arab. ilmu al-lughah adalah ilmu yang mengkaji bahasa, baik secara sinkronis, diakronis, maupun komparatis. [18]

         Bahasa apapun di dunia memiliki beberapa aspek bahasa dan antara yang satu dengan yang lainnya tidak boleh dipisah-pisahkan dalam mempelajari dan mengajarkannya. Termasuk bahasa Arab. aspek-aspek ini meliputi aspek tata bunyi, aspek kosakata, aspek tata kalimat, aspek semantik/arti, dan aspek sosio-kultural.

1.      Aspek fonologi.

Fonologi dimaknai sebagai ilmu tentang bunyi bahasa, terutama yang mencakup sejarah dan teori perubahan bunyi.[19] Terkait dengan aspek bunyi, Yayan Nurbayan  menjelaskan bahwa metode paling baik untuk menjelaskan perbedaan antara dua bunyi adalah dengan tsunaiyatus shughro, yaitu dua kata yang berbeda dalam makna akan tetapi ada kemiripan dalam pengucapannya. Perbedaanya hanya dalam satu bunyi, contohnya:سال, زال  bunyi yang berbeda bisa pada awal, tengah, maupun akhir.[20]

2.      Aspek Mufradat

        Kosakata atau mufradat sama dengan perbendaharaan kata. Ditinjau dari segi bahasa, kata mufradat merupakan bentuk dari kata mufradah. Diartikan sebagai satuan atau unit bahasa yang tersusun secara horizontal sesuai dengan sistem gramatika (nahwu) tertentu yang berfungsi sebagai pembentuk kalimat. Kosakata juga merupakan salah satu unsur bahasa yang sangat penting karena berfungsi sebagai pembentuk ungkapan atau kalimat dan wacana.

        Sedemikian pentingnya kosakata atau mufradat sehingga ada yang berpendapat bahwa pembelajaran bahasa Arab harus dimulai dengan mengenalkan dan membelajarkan kosakata atau mufradat itu baik dengan cara dihafal ataudengan cara yang lain. Namun demikian, pembelajaran kosakata atau mufradat tidaklah identik dengan bahasa itu sendiri, karena kosakata atau mufradat tidak akan bermakna dan memberi pengertian kepada pendengar atau pembacanya jika tidak dirangkai pada sebuah kalimat yang benar dan kontekstual. Menurut gramatika dan sistem semantik yang baku.[21]

        Dengan karakter bahasa Arab yang pembentukan katanya beragam dan fleksibel tersebut, problem pengajaran kosakata bahasa Arab akan terletak pada keanekaragaman bentuk marfologis (wazan) dan makna yang dikandungnya, serta akan terkait dengan konsep-konsep perubahan derivasi, perubahan infleksi, kata kerja (af’al atau verb), mufrad (simular), mutsana (dual), jamak (plural), ta’nis (feminine), tazkir (masculine), serta makna leksikal dan fungsional. Misalnya kata  تناول  maknanya tidak sekedar “makan” dan “minum” semata, melainkan dapat diartikan “mengambil,” meraih”, “menerima”, dan sebagainya.[22]

3.      Aspek tata kalimat (sintaksis)

        Tata kalimat adalah pelajaran mengenai susunan kalimat dalam bahasa Arab, pengaturan antar kata dalam kalimat atau antar kalimat dalam klausa atau wacana merupakan kajian ilmu nahwu. Bahkan hubungan itu tidak hanya menimbulkan makna gramatika, akan tetapi juga mempengaruhi garis akhir masing-masing kata yang kemudian disebut i’rab.[23] Ilmu nahwu adalah ilmu yang mengandung sejumlah kaidah yang digunakan untuk mengetahui posisi kata bahasa Arab dalam kalimat, seperti i’rab, bina, dan mencakup hal-hal yang lain seperti المطبقة  (kesesuaian) dan  الموقعية(letak penempatan kata).

Contoh  المطبقة antara  مبتدأ dan خبر

التلاميذ مجتهدون. التلميذان مجتهدان. التلميذ مجتهد

Contoh  المطبقة antara صفة  dan موصوف

التلميذة مجتهدة  ناجحة[24]

4.      Aspek semantik atau arti

Dalam bahasa Arab, istilah ini dikenal علم المعنى atau علم الدلالة. Samantik adalah bagian dari linguistik yang mempelajari teori makna. Semantik atau arti juga diartikan ilmu yang mengajarkan tentang seluk beluk dan pergeseran arti kata-kata.[25]  Bahasa adalah simbol bunyi yang mempunyai arti dan digunakan oleh sekelompok manusia untuk mengungkapkan isi hatinya. Simbol-simbol bunyi yang tersusun secara sistematis dalam kata atau kalimat tidak akan berfungsi secara risalah apabila tidak memperhatikan arti atau semantik.

5.      Aspek sosio-kultural

Bahasa adalah sesuatu yang lahir dari masyarakat dan merupakan salah satu aspek sosial. Bahasa adalah cerminan suatu bangsa pemakai bahasa. Mempelajari suatu bahasa berarti mempelajari kultur bangsa suatu penutur bahasa itu. Faktor nonlinguistik yang dianggap sebagai sebab timbulnya problem dalam pendikan bahasa Arab antara lain: perbedaan sosio kultural bangsa Arab dengan sosio kultural pelajar (Indonesia), sarana dan prasarana fisik, serta tempat dan waktu.[26]

2.         Permasalahan Non Kebahasaan (non linguistik)

Diantara permasalahan non kebahasaan yang sangat penting dan perlu diungkapkan adalah yang bersifat sosiologis, psikologis dan metodologis. Kesemuanya akan dibahas berikut ini:

a.         Posisi marjinal bahasa Arab

Dalam dokumen politik bahasa nasional (PBN) tahun 1975 (masa orde baru), bahasa Arab sama sekali tidak disebut dalam rumusan mengenai bahasa asing tertulis, di dalam hubungannya dalam bahasa Indonesia, bahasa-bahasa seperti Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, dan bahasa lainnya, kecuali Indonesia dan bahasa daerah serta bahasa Melayu berkedudukan sebagai bahasa asing.

Kedudukan ini didasarkan atas kenyataan bahwa bahasa asing tertentu itu diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan pada tingkat tertentu. Kedudukan bahasa Arab sebagai bahasa asing dapat disimpulkan secara implisit dari frasa dan bahasa lainnya. Rumusan tersebut disetujui atau tidak, telah mendudukkan bahasa Arab dalam posisi marjinal (terpinggirkan). Imbasnya sangat luas (khususnya di lingkungan Kemdikbud). Antara lain, diabaikannya bahasa Arab dalam pembukaan program studi di perguruan tinggi. Penyusunan kurikulum di sekolah, pengadaan sarana penunjang pengajaran, program pengembangan sumber daya manusia, dan sebagainya.

Tidak disebutnya bahasa Arab dalam rumusan PBN tersebut jelas merupakan pengingkaran terhadap kenyataan bahwa  bahasa Arab adalah bahasa asing yang paling banyak dipelajari di tanah air, dibandingkan bahasa-bahasa asing lainnya, kecuali bahasa Inggris. Ditinjau dari fungsinya, bahasa asing adalah sebagai:

1.        Alat penghubung antar bangsa

2.        Alat pembantu pengembangan bahasa Indonesia

3.        Alat pemanfaatan iptek untuk pembangunan nasional.

          Fungsi bahasa Arab seperti dipaparkan sebelumnya sudah menjadi alasan untuk tidak memarjinalkannya dalam politik bahasa nasional. Kenyataan seperti itu tampaknya telah mulai disadari sejak bergulirnya masa reformasi. Karena itu, diantara rumusan hasil seminar “Politik Bahasa Nasional” pada tahun 1999 adalah bahwa bahasa Arab telah di dudukkan sebagai bahasa Asing kedua setelah bahasa Inggris. Bahasa Arab,  disamping berkedudukan sebagai bahasa asing, juga dinyatakan sebagai bahasa agama dan budaya Islam. Sastra Arab dinyatakan sebagai salah satu sumber ilham dan sumber pemahaman terhadap karya sastra Indonesia.

          Pembelajaran bahasa Arab juga dinyatakan secara eksplisit sebagai mata pelajaran wajib di sekolah yang berdasarkan Islam sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah yang tidak berazaskan Islam, dan dapat diberikan sebagai mata kuliah pada jenjang pendidikan tinggi. [27]

3.      Rendahnya motivasi dan minat berbahasa Arab

      Motivasi adalah motif yang telah aktif. Motif (tujuan) belajar  bahasa Arab beraneka ragam. Mahmud Yunus menyebutkan empat tujuan belajar bahasa Arab, yaitu:

a.    Supaya paham dan mengerti dengan mendalam apa yang dibaca dalam sembahyang

b.    Supaya mengerti membaca al-Quran sehingga dapat mengambil petunjuk dan pengajaran darinya

c.    Supaya dapat belajar ilmu agam Islam dari buku-buku yang dikarang dalam bahasa Arab

d.   Supaya pandai berbicara dan mengarang dalam bahasa Arab untuk berhubungan dengan kaum muslimin, karena bahasa Arab adalah bahasa umat Islam di seluruh dunia.[28]

Sedangkan rendahnya motivasi atau minat belajar bahasa Arab bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karena rendahnya penghargaan kepada bahasa Arab yang menurut efendi disebabkan oleh beberapa hal, baik yang obyektif mauun subyektif, misalnya:

a.         Pengaruh bawah sadar sebagian masyarakat Indonesia (termasuk yang muslim) yang merasa rendah diri dengan segala sesuatu yang berbau Islam dan Arab serta mengagungkan sesuatu yang berasal dari barat

b.         Sikap Islamopobia, yaitu perasaan cemas atau tidak suka terhadap kemajuan Islam dan umat Islam, termasuk bahasa Arab karena bahasa Arab dipandang identik dengan Islam

c.         Terbatasnya pengetahuan dan wawasan karena kurangnya informasi yang disampaikan kepada khalayak mengenai kedudukan dan fungsi bahasa Arab

d.        Kemanfaatan bahasa Arab dari tinjauan praktis pragmatis memang rendah dibandingkan dengan bahasa asing lain terutama bahasa Inggris.[29]

Kalau memang demikian, antusiasme belajar bahasa Arab sebagai alat perlu kiranya ditingkatkan. Hal ini bisa dicapai dengan dua cara antara lain:

a)      Cara langsung

Yaitu dengan memenfaatkan jasa para ulama untuk menjelaskan arti penting bahasa Arab dalam mempelajari agama Islam, bekerja di negara Arab, dan sebagainya

b)      Cara tidak langsung

Yaitu dengan ikut serta bersama para da’i dan ulamamenyemarakan dakwah, mencarikan peluang kerja di negara Arab, atau memanfaatkan para pejabat dan pengusaha menarik investasi dari negar-negara Arab.

b.        Permasalahan metodologis

1.      Tenaga pengajar atau Guru

Guru adalah komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial. Oleh karena itu, guru harus berperan aktif dalam menempatankan kedudukannya sebagai tenaga profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.[30]

Adapun yang disebut sebagai guru profesional adalah guru yang mempunyai empat kompetensi pokok, yaitu:

a.       kompetensi pedagogis yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan mengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis

b.      kompetensi profesional yaitu kemampuan yang menyangkut penguasaan materi pembelajaran

c.       kompetensi personal yaitu kemampuan personal yang menunjukkan kepribadian mantap, stabil, dewasa, arif, dan berakhlak mulia.

d.      kompetensi sosial yaitu kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, orang tua/ wali peserta didik dan masyarakat sekitar.[31]

Sedangkan guru bahasa Arab yang profesional harus memiliki kualifikasi sebagai berikut:

1.      Berlatar belakang  pendidikan keguruan bahasa Arab

2.      Memiliki pengetahuan yang memadai tentang bahasa Arab dan mahir berbahasa Arab

3.      Memiliki pengetahuan tentang proses belajar mengajar bahasa Arab dan mampu menerapkannya dalam pembelajaran

4.      Memiliki semangat dan kesadaran untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesinya sesuai dengan perkembangan zaman

Berdasarkan hasil penelitian terbatas dan pengamatan yang dilakukan Effendy tahun 1991 secara langsung di lapangan, ditemukan banyak guru bahasa Arab di jenjang pendidikan dasar dan menengah tidak memenuhi persyaratan profesi. Data yang ditemukan menunjukkan bahwa para guru bahasa Arab SMU se-Jawa Timur 33,4% berpendidikan SLTA atau Pesantren. Adapun dari 66,6% yang berpendidikan tinggi hanya 22,2% yang berkualifikasi sarjana pendidikan bahasa Arab. Keadaan serupa mungkin terjadi di daerah lain (dan besar kemungkinan di lingkungan madrasah lebih parah lagi).[32]

2.      Materi kurikulum

Kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “curir” yang berarti pelari. Pada saat itu kurikulum diartikan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa atau murid untuk mencapai ijazah.[33]

Problem ketidaktercapaian tujuan pengajaran bahasa Arab di madrasah juga erat kaitannya dengan materi kurikulum yang direncanakan. Materi kurikulum yang diterapkan belum sepenuhnya mendukung ketercapain tujuan, mufrodat, maupun materi yang lain yang kadang tidak singkron dengan tujauan yang akan dicapai.[34]

3.      Siswa

Siswa merupakan faktor yang paling penting dalam pendidikan, karena tanpa adanya faktor tersebut, pendidikan tidak akan berlangsung. Siswa ini tidak dapat digantikan oleh faktor lain. Hal itu disebabkan siswa adalah faktor utama dalam pendidikan.

Sardiman (2005), sebagaimana dikutip oleh Drs. H. Syamsudin Asyrofi, M.M. Siswa atau subyek didik merupakan salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral proses belajar mengajar. Siswa akan menjadi faktor penentu, sehingga menuntut guru agar dapat memenuhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya. Jadi dalam proses belajar mengajar yang harus  diperhatikan pertama kali adalah siswa.[35]

4.      Alokasi waktu

Salah satu problem yang juga sangat krusial dalam pembelajaran bahasa Arab adalah problem alokasi waktu. Selama ini, mata pelajaran bahasa Arab di madrasah hanya diberi alokasi waktu sekitar 2-3 jam pelajaran per minggu dengan durasi waktu 45 menit per jam pelajaran. Dengan terbatasnya waktu yang tersedia, maka guru bahasa Arab dituntut untuk mampu membuat desain pembelajaran yang efektif dan efisien agar tujuan dan kompetensi dasar yang ditetapkan bisa tercapai. Tanpa langkah dan upaya tersebut, sangat mungkin tujuan tidak akan tercapai.[36]

5.      Metode

Metode mengajar adalah jalan atau cara yang harus dilalui dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Metode mengajar dalam dunia pendidikan dan pengajaran berfungsi sebagai salah satu alat (disamping alat lain misalnya, alat penilaian, alat peraga), yaitu alat untuk mengajarkan bahwa pelajaran dalam tingkat pencapaian tujuan pengajaran.[37]

Adapun pendapat lain tentang metode adalah cara yang teratur yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan mereka, guna mencapai tujuan. Dengan kata lain bahwa metode adalah jalan menuju tujuan tertentu.[38]

Menurut Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar dalam bukunya “Metodologi Pengajaran Agama Bahasa Arab”, ada beberapa metode pengajaran bahasa Arab, yakni:

a.         Metode bercakap-cakap (muhadatsah)

Metode muhadatsah yaitu cara menyajikan bahan pelajaran bahasa Arab melalui percakapan, dalam percakapan itu, dapat terjadi antara guru dengan murid atau antara murid dengan murid sehingga dapat memperkaya perbendaharaan kata-kata (vocabulary).[39]

b.         Metode membaca (muthalaah)

Metode muthalaah yaitu cara menyajikan pelajaran dengan cara membaca, baik membaca dengan bersuara maupun membaca dalam hati. Melalui metode ini, diharapkan siswa dapat mengucapkan lafadz kata-kata dan kalimat dalam bahasa Arab yang fasih, lancar dan benar. [40]

c.         Metode dikte (Imla)

Metode ini juga disebut metode menulis dimana guru membacakan materi pelajaran dan siswa disuruh menulisnya di buku tulis. Imla juga dapat dilakukan dengan cara guru menuliskan materi pelajaran imla di papan tulis kemudian dihapus dan menyuruh siswa untuk menulisnya kembali di buku tulisnya.[41]

d.        Metode mengarang (Insya)

Metode Insya yaitu cara menyajikan bahan pelajaran dengan cara menyuruh siswa mengarang dalam bahasa Arab untuk mengungkapkan isi hati, pikiran dan pengalaman yang dimilikinya. Melalui metode ini diharapkan anak didik dapat mengembangkan daya imajinasi secara kreatif dan produktif sehingga berpikirnya berkembang dan tidak statis.[42]

e.         Metode menghafal (mahfrudzat)

Metode mahfudzat atau menghafal yakni cara menyajikan materi menghafal kalimat-kalimat berupa: syair, cerita, kata-kata hikmah dan lain-lain yang menarik hati.[43]

f.          Metode tata bahasa (Qawaid)

Metode Qawaid yaitu cara menyajikan pelajaran dengan jalan menghafal aturan-aturan atau kaidah-kaidah tata bahasa Arab yang mencakup nahwu-sharaf. Metode Qawaid ini tidak jauh berbeda dengan metode grammar, sebab cara menyajikan bahan pelajaran itu sama.[44]

Keenam metode pengajaran bahasa Arab tersebut, mempunyai kesamaan dengan metode pengajaran bahasa Asing lainnya, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Fuad Effendi dan Fachruddin Djalal dalam bukunya “Pendekatan dan Teknik Pengajaran Bahasa Arab”, yaitu sebagai berikut:

1.         Metode tata bahasa (grammar)

Metode grammar ialah cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan menghafal aturan-aturan atau kaidah-kaidah tata bahasa (nahwu-sharaf). Jadi di sini, anak didik diajarkan terlebih dahulu grammar/tata bahasa, adapun pelajaran percakapan tidak dipentingkan.[45]

2.         Metode terjemah (translation)

Metode translation yaitu metode menerjemahkan dengan kata lain menyajikan pelajaran dengan menerjemahkan buku-buku bacaan berbahasa Asing ke dalam bahasa sehari-hari, dan buku bacaan tersebut tentunya telah direncanakan sebelumnya.[46]

3.         Metode gramatika-terjemah (grammar-translation)

Metode ini merupakan gabungan dari metode gramatika dan terjemah. Di sini siswa mempelajari kaidah-kaidah tata bahasa dengan contoh-contoh yang meliputi analisa bacaan pendek yang mengilustrasikan prinsip tata bahasa yang sedang diajarkan. Metode ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk menjalankan latihan penerjemahan dari bahasa asing ke dalam bahasa pelajaran dan sebaliknya.[47]

4.         Metode langsung (direct method)

Metode langsung atau direct method yaitu suatu cara penyajian materi pelajaran bahasa asing di mana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak sedikitpun dalam mengajar.[48]

5.         Metode alamiah (natural method)

Metode ini lahir dari asumsi bahwa orang dapat belajar bahasa asing sebagaimana ia belajar bahasa ibu. Secara garis besar metode ini tidak banyak bedanya dengan metode langsung. Bahasa ibu sama sekali tidak boleh dipakai selama proses belajar mengajar.[49]

6.         Metode psikologi (physycilogical method)

Pemakaian metode ini dalam pemakaian bahasa asing terhadap siswa adalah sangat memperhatikan keadaan jiwa mereka, atau apa yang disenangi mereka, atau suasana hati para murid pada umumnya.[50]

7.         Metode fonetik (phonetic method)

Metode ini menggunakan ear training dan speak training yaitu cara menyajikan pelajaran bahasa asing melalui latihan-latihan mendengarkan kemudian diikuti dengan latihan-;latihan mengucapkan kata-kata dan kalimat dalam bahasa asing yang sedang dipelajari.[51]

8.         Metode membaca (reading method)

Metode membaca (reading method) yaitu menyajikan materi pelajaran dengan cara terlebih dahulu mengutamakan membaca, yakni guru mula-mula membacakan topik-topik bacaan, kemudian diikuti oleh siswa atau menunjuk salah satu diantara siswa untuk membacakan pelajaran dan siswa lain memperhatikan dan mengikuutinya.[52]

9.         Metode unit (unit method)

Unit artinya bagian-bagian yang memiliki kesatuan lengkap dan bulat. Dengan kata lain metode unit merupakan suatu cara menyajikan pelajaran bahasa asing melalui unit kesatuan pengertian yang utuh dan lengkap.[53]

10.     Metode pembatasan bahasa (language control method)

Metode pembatasan bahasa adalah cara mengajar bahasa yang didasarkan atas pemilihan kata-kata dan struktur kalimat dari segi sering tidaknya pemakaian atau penggunaannya. Jadi, ciri pokok metode ini adalah adanya pembatasan  dan gradasi, baik dalam kosakata maupun struktur kalimat yang diajarkan. Sedangkan pengajaran yang baik menurut metode ini adalah  pengajaran yang dimulai dengan mudah dan sederhana, kemudian berangsur-angsur beralih menuju materi yang lebih sulit dan kompleks.[54]

11.     Metode mim-mem (mimicry-memorazation)

Mim-mem merupakan singkatan dari mimicry atau meniru dan memrazation atau menghafal (pengingatan). Metode ini sering dikenal juga sebagai informan-drill method.[55]

12.     Metode praktek teori (practise_theory method)

Metode ini mengutamakan praktek, baru kemudian teori. Kalimat-kalimat contoh dihafalkan dengan cara mengulang-ulang secara teratur dengan menirukan rekaman atau langsung dari native informant. Kalimat-kalimat contoh tersebut kemudian dianalisa, baik secara fonetik mauun struktural untuk mengemukakan teori atau kaidah-kaidahnya.[56]

13.     Metode cognate (cognate method)

Metode ini menyajikan materi pelajaran bahasa asing dengan mengutamakan inventarisasi kata-kata yang sama, huruf-huruf ataupun arti yang sama dengan bahasa si anak didik yakni dalam hal ini bahasa Indonesia. Sedangkan cognate sendiri mempunyai arti kata-kata yang asalnya sama.[57]

14.     Metode dwi bahasa (dual-langual method)

Metode ini merupakan metode lanjutan  dari metode cognate, yakni bukan saja menginventaris dan mengidentifikasi kata-kata atau arti yang sama, tapi lebih jauh lagi, semua segi dibanding-bandingkan antara bahasa asing yang dipelajari dengan bahasa asing anak didik. Dual berarti dwi-rangkap atau rangkap dua., yakni bahasa asing yang sedang dipelajari dirangkapkan atau dibandingkan dengan bahasa anak didik (bahasa Indonesia).[58]

15.     Metode gabungan (electic method)

Electic artinya campuran, kombinasi atau gado-gado dalam bahasa Indonesia (metode-metode pilihan). Jadi electic method yaitu cara menyajikan bahan pelajaran bahasa asing di depan kelas dengan melalui kombinasi dari berbagai metode, misalnya: dirrect method dengan grammar translation method bahkan dengan  metode reading sekaligus dipakai/diterapkan dalam suatu kondisi pengajaran.[59]

6.      Media pembelajaran

a.      Pengertian media

          Kata “media“ berasal dari bahasa Latin “medius” yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara (wasilah) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.[60] Tetapi secara lebih khusus, pengertian media dalam proses pembelajaran diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.[61]

          Selain pengertian diatas, masih ada beberapa pengertian tentang media pengajaran, antara lain:

1.         Association for Education and Communcation Technology (AECT) mengartikan media sebagai segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi.[62]

2.         National Education Association (NEA) mendifinisikan media merupakan benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional.[63]

3.         Soeparno mengemukakan dalam bukunya “Media Pengajaran Bahasa” bahwa media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel)untuk menyampaikan suatu pesan (massage) atau informasi dari suatu sumber (ressource) kepada penerima (receiver).[64]

b.      Fungsi dan manfaat media pengajaran

Pada awalnya media hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam kegatan belajar mengajar yakni berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada siswa dalam rangka mendorong motivasi belajar, memperjaelas dan mempermudah konsep yang kompleks dan abstrak menjadi lebih sederhana, konkret, serta mudah dipahami.[65] Dengan demikian, media dapat berfungsi untuk mempertinggi daya serap dan retensi anak terhadap materi pembelajaran sehingga dapat membuat pelajaran lebih menarik.[66]

Sedangkan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa, antara lain:

1.         Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.

2.         Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran dengan lebih baik.

3.         Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui kata-kata guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.

4.         Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktifitas lain seperi mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.[67]

Akan tetapi, selama ini guru bahasa Arab enggan membuat dan memanfaatkan media pembelajaran yang ada. Mereka hanya memanfaatkan buku teks dan papan tulis sebagai media pembelajarannya. Padahal jika mereka membuat kreatifitas, mereka bisa membuat media yang murah atau memanfaatkan media pembelajaran yang telah ada agar lebih menarik siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa Arab.[68]

7.      Evaluasi pembelajaran

        Evaluasi hasil belajar yaitu cara tertentu yang digunakan untuk menilai suatu proses dan hasilnya. Dengan kata lain, evaluasi merupakan suatu bagian pokok dalam pembelajaran yang memberikan keuntungan bagi guru dan siswa.[69] Oleh karena itu, evaluasi pembelajaran bahasa Arab sangat dibutuhkan untuk mengukur sejauh mana tingkat keberhasilan pengajaran bahasa Arab.[70]

Dari pemaparan tentang problematika pembelajaran bahasa Arab diatas, dapat disimpulkan secara singkat sebagaimana bagan/skema berikut ini:

 

 

 

 

Problematika Pembelajaran Bahasa Arab

Problematika Non Linguistik

Problematika Linguistik

Posisi Marjinal Bahasa Arab

Rendahnya Motivasi dan Minat Berbahasa Arab

Permasalahan Metodologis

 Fonologi

Mufrodat

sintaksis

semantik

Sosio-kultural

Guru

Waktu

Siswa

Metode

Media

Evaluasi

Kurikulum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi IV 2008, hlm. 23

[2] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa  Arab, hlm. 32

[3] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm 29-30

[4] Ibrahim Mustafa dkk. al-Mu’jam al-Wasith,( Istanboul: Al-Maktaba al-Islamiyah cet. Ke-4, 2004), hlm. 831

[5] Ahmad al-Hasyimi, al-Qowa’id al-Asasiyah li al-Lughat al-Arabiyah, (Beirut: Dar al-Kutub  al_Ilmiyyah, 1988) hlm. 7

[6] Mustafa al-Gulayayni, Jami’ al-Durus al-Arabiyah, Jus I Cet. XXX, (Beirut: al-Maktabah al-Asriyyah), 1994, hlm. 98

[7] Busayri Madjidi, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Yoyakarta: Sumbangsih Offset, 1994), hlm. 1

[8] Abdul Munib, Strategi dan Kiat Menerjemahkan Teks Bahasa Arab kedalam Bahasa Indonesia, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 41-50

[9] Amir Dien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), hlm. 44

[10] UU. RI. Nomor 20  tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, Bab II Pasal 3

[11] Departemen Agama, Kurikulum Iain/Stain, Tahun 1999 yang disempurnakan, (Jakarta: Ditbinperta, 1997), hlm. 117

[12] Mahmud Yunus,  Metode Khusus Bahasa Arab, (Cet. Ke-1 Bandung:Hidyakarya, 1981), hlm. 77

[13] Syamsuddin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 70

[14] Jhon M. E. Cols dan Hasan Sadhali, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1976), hlm. 448

[15] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 701

[16] Syamsuddin Asyrafi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: Idea Press, 2003), hlm. 59-74

[17] Nazri Syakur, Revolusi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: BiPA, 2010), hlm. 57

[18] Kamal Muhammad Bysr, Dirasat Fil ‘Ilm al-Lughah, (Kairo: Dar  al-Ma’arif, 1969), hlm. 9

[19] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia.( Jakarta: 1988), hlm. 244

[20] Yayan Nurbayan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung, Zein al-Bayan, 2008), hlm. 45

[21]  Ahmad Fuad Effendi, Metodologi Pengajaran Bahasa , hlm. 96

[22] Aziz Fahrurrozi dan Erta Mahyudin, Pembelajaran Bahasa Arab, (Cet. Ke-2, Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, 2012), hlm. 7

[23] Sahkholid, Pengantar Linguistik (Analisis Teori-Teori Linguistik Umum Dalam Bahasa Arab), (Medan: Nara Press, 2006), hlm. 124

[24] Al-Syarif Ali Bin Muhammad al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifat, (Bairut: Dar  al-Kutub al-Ilmiyah, 1988), hlm. 240

[25] Ahmad Mukhtar Umar, Ilmu Al-Dilalah, (Kuwait: Maktabah Dar Al-Arabiyah, 1982), hlm. 11

[26] Urip Masduki, Problematika Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah, Dalam Ikhlas Beramal, (Jakarta: Departemen Agama RI. Juni 1997), hlm. 53

[27]  Nazri Syakur, Revolusi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 58-62

[28] Mahmud Yunus, Metode Khusus Bahasa Arab, hlm. 78

[29] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa, ( Malang: Misykat, 2005,  Cet. Ke-3), hlm. 91

[30] Sadirman, A.M, Interaksi Dan Motivasi Dalam Mengajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 123

[31] Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 163

[32] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa, hlm. 23

[33] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010), hlm. 2

[34] Syamsudin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 72

[35] Syamsudin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 29

[36] Syamsuddin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 72

[37] S. Ulih Bukit Karo, Dkk. Suatu Pengantar Ke Dalam Metodolgi Pengajaran, (Salatiga: C. V. Saudara, 1975), hlm. 5

[38] Ahmad Janan Asifudin, Mengungkit Pilar-Pilar Pendidikan Islam (Tinjauan Filosofis), hlm. 110

[39] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 191

[40] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, hlm. 195

[41] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, hlm. 200

[42] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, hlm. 203

[43] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, hlm. 205

[44] Fuad Effendy dan Fachruddin Djalal, Pendekatan Metode dan Teknik Pengajaran Bahasa Arab (Malang: sub proyek penulisan buku pelajaran proyek peningkatan perguruan tinggi IKIP Malang, 1981/1982), hlm. 27

[45] Fuad Effendy dan Fachruddin Djalal, Pendekatan Metode dan Teknik Pengajaran Bahasa Arab, hlm. 27

[46] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, hlm. 168

[47] Fuad Effendy dan Fachruddin Djalal, Pendekatan Metode dan Teknik Pengajaran Bahasa Arab, hlm. 28

[48] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, hlm. 152

[49] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, hlm. 30

[50] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, hlm. 32

[51] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab, hlm. 159

[52] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, hlm. 162

[53] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, hlm. 172

[54]  Fuad Effendy dan Fachruddin Djalal, Pendekatan Metode dan Teknik Pengajaran Bahasa Arab, hlm. 33

[55] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, hlm. 174

[56]  Fuad Effendy dan Fachruddin Djalal, Pendekatan Metode dan Teknik Pengajaran Bahasa Arab, hlm. 33-34

[57] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, hlm. 182

[58] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, hlm. 180-181

[59] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, hlm. 184

[60] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, hlm. 3

[61] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab , hlm. 223

[62] Yoto dan Saiful Rahman, Manajemen Pembelajaran (Malang: Yanizar Group, 2001), hlm. 57

[63] Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 11

[64] Soeparno, Media Pengajaran Bahasa,(Yogyakarta: PT. Intan Pariwara, 1987), hlm. 1

[65] Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, hlm. 21

[66] Adjai Robinson, Asas-asas Praktik Mengajar (Jakarta: Bhratara, 1988), hlm. 75

[67]  Nana Sudjana, Media Pengajaran (Bandung: CV. Sinar Baru, 1990),  hlm. 2

[68] Syamsuddin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 74

[69] Ahmad Munjin Nasih, Metode Dari Teknik Pembelajaran, (Bandung: PT. Rafika Aditama, 2009), hlm. 125

[70] Syamsuddin Asyrofi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hlm. 75

Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Transliterasi Arab Latin

Fungsi Hadits

Bolehkah Berdebat