Makalah ulumul qur'an tentang tafsir bil matsur, bir-ra'yu, dan bil'isyari

Mata Kuliah

Studi Ulumul Qur’an dan Hadits

 

 

 

 

TAFSIR BI AL MATSUR, TAFSIR BI AL RA’YI,

DAN          TAFSIR BI AL ISYARI

 

Dosen Pembimbing

   Dr. H. Encep, MA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

 

 

1.    Nurhayati (22200095)

2.    Moh. Iqbal (23200216)

3.    Zainul Anwar (23200274)

 

 

 

 

Pasca Sarjana Jurusan PAI

Institut Agama Islam Al Karimiyah

Depok

2023


 

 

Kata Pengantar

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam mata kuliah Ulumul Qur'an dan Hadits dalam profesi Magister Pendidikan Agama Islam di IAID Al Karimiyah Depok.

 

Harapan kami, semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

 

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

 

 

 

Sawangan, Oktober 2023

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR ................................................................................

 

DAFTAR ISI...............................................................................................

 

BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................

 

1.1 Latar Belakang.............................................................................

 

1.2 Rumusan Masalah........................................................................

 

1.3 Tujuan Penulisan..........................................................................

 

 

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................

 

 

2.1 Pengertian Tafsir Bi Al Ma`sur ....................................................

 

2.2 Macam-macam Tafsir Bi Al Ma`sur ............................................

 

2.3 Pengertian Tafsir Bi Al Ra’yi ......................................................

 

2.4 Macam-macam Tafsir Bi Al Isyarah ............................................

 

2.5 Pengertian Tafsir Bi Al Isyarah ...................................................

 

2.6 Macam-macam Tafsir Bi Al Isyarah.............................................

 

 

BAB III PENUTUP ...................................................................................

 

 

3.1 Kesimpulan ...................................................................................

 

3.2 Saran ............................................................................................

 

 

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

 

 

 

 

 

 

 



 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

 

Allah SWT sebagai pencipta semua makhluk yang ada dan menempatkan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Seperti dalam firman-Nya yang berbunyi:

 لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤

Artinya : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (Qs. At-Tiin: 4)

 

Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidayah untuk mencapai kebahagiaan manusia didunia dan akhirat. Al-Qur'an sebagai pedoman pertama dan utama umat Islam. Diturunkan dalam bahasa Arab. Namun yang menjadi masalah dan pangkal perbedaan adalah kapasitas manusia yang sangat terbatas dalam memahami Al-Qur'an. Karena pada kenyataannya tidak semua yang pandai bahasa Arab, sekalipun orang Arab sendiri, mampu memahami dan menangkap pesan Ilahi yang terkandung di dalam Al-Qur'an secara sempurna.

Rasulullah SAW setiap menerima ayat al-Qur’an langsung menyampaikannya kepada para sahabat serta menafsirkan makna yang perlu ditafsirkan. Dalam hal itu tafsir yang diterima Nabi sendiri sedikit sekali. Kata Aisyah r.a. : “Nabi menafsirkan hanya beberapa ayat saja menurut petunjuk-petunjuk yang diberikan Jibril”.

Maka oleh karena mengetahui tafsir adalah hal yang sangat penting, para sahabatpun bersungguh-sungguh mempelajari Al-Qur’an yakni memahaminya dan mentadabburi maknanya. Tegasnya mempelajari tafsir.[1]

 

Secara umum metode tafsir yang sering dipakai ulama tafsir ada tiga,yakni tafsir bi al-ma'tsur, tafsir bi al-ra'yi, dan tafsir bi al-isyari. Adapun tafsir bi al-ma'tsur adalah tafsir yang didasarkan atas periwayatan. Lalu,tafsir bi al-ra'yi adalah suatu metode dalam tafsir yang mengandalkan nalar,dan rasio (kemampuan daya pikir yang dimiliki manusia). Adapun tafsir bial-isyari adalah model tafsir yang mengandalkan atas isyarat atau indikasi.[2]

 

 

 

 

B.     RUMUSAN MASALAH

Penulis telah menyusun beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini sebagai batasan dalam pembahasan bab isi. Beberapa masalah tersebut antara lain:

1.      Bagaimana pengertian Tafsir bial-ma'tsur, tafsir bi al-ra'yi,dan tafsir bi al-isyari

2.      Bagaimana macam tafsir bial-ma'tsur, tafsir bial-ra'yi dan tafsir bial-isyari.

3.      Contoh dari tafsir bi al-ma'tsur, tafsir bi al-ra'yi, dan tafsir bi al-isyari

 

C.    TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dalam penulisan makalah ini sebagai berikut :

1.         Untuk mengetahui apa pengertian tafsir bi al-ma'tsur, tafsir bi al-ra'yi dan tafsir bi al-isyari

2.         Untuk mengetahui macam-macam tafsir bi al-ma'tsur, tafsir bi al-ra'yi,dan tafsir bi al-isyari

3.         Untuk mengetahui contoh dari Tafsir bi al-ma'tsur, tafsir bi al-ra'yi dan tafsir bi al-isyari

 

D.    SISTEMATIKA PENULISAN

Untuk lebih memudahkan dalam penelusuran makalah ini, maka  kami membuat sistematika penulisan  yang terbagi menjadi tiga bab, yaitu:

Bab Pertama. Pendahuluan, yang memuat: Latar belakang, Pembatasasan dan Perumusan Maasalah, Tujuan dan Sistimatika Penulisan.

Bab Kedua.Pembahasan, yang terdiri dari: pengertian tafsir bi al-ma'tsur, tafsir bi al-ra'yi dan tafsir bi al-isyari serta macam-macamnya dan berikut contohnya.

Bab Ketiga, Penutup. Yang berisi tentang:

Kesimpulan, saran dan Daftar Pustaka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    TAFSIR BI AL-MA’STUR

1.      Pengertian Tafsir bi Al-Ma’tsur

Kata Al Matsur adalah isim maful (objek) dari kata atsara-ya’tsuru-atsran-waatsaratan yang berarti menyebutkan atau mengutip. Jelasnya mengikuti atau mengalihkan sesuatu yang sudah ada dari orang lain atau masa lalu sehingga tinggal mewarisi dan meneruskan apa adanya.[3]

Dinamai dengan bil ma’tsur (dari kata “atsar” yang berarti sunnah, hadits, jejak, peninggalan) karena dalam melakukan penafsiran, seorang mufassir menelusuri jejak atau peninggalan masa lalu dari generasi sebelumnya, hingga kepada Nabi SAW [4]

Tafsir bil ma’tsur adalah metode penafsiran dengan cara mengutip atau mengambil rujukan pada Al-Qur’an , Hadist Nabi, kutipan Sahabat serta Tabi’in.[5] Ditafsirkan dengan Sunnah karena ia berfungsi menjelaskan Kitabullah, dengan perkataan Sahabat karena merekalah yang paling mengetahui Kitabullah, atau dengan apa yang dikatakan tokoh-tokoh besar Tabi’in karena pada umumnya mereka menerimanya dari para sahabat.

 

2.      Macam-macam Tafsir bil Ma’tsur yaitu sebagai berikut:

a.          Penafsiran Al-qur’an dengan Al-qur’an

Contoh, seperti firman Allah :

وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ

      Artinya :“Demi langit dan yang datang dimalam hari”. (QS. Ath- Thariq : 1).

 

 

     Dengan ayat

النَّجْمُ الثَّاقِبُ

Artinya : “Ialah bintang yang bercahaya”. QS. Ath-Thariq : 3

 

Kemudian firman Allah ‘Azzawajalla :

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ

Artinya: “Kemudian Adam memperoleh beberapa kalimat dari tuhannya (ia mohon ampun), lalu Allah menerima tobatnya”. QS. Al-Baqarah : 37.[4]

 

            Ditafsirkan dengan firman Allah :

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:“Keduanya berkata, ya tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, jika engkau tidak ampuni kesalahan kami dan tidak engkau kasihi kami, tentulah kami orang yang merugi”. (QS. Al-A’raf : 23)

Penafsiran Al-qur’an dengan Al-qur’an adalah bentuk tafsir yang tertinggi. Keduannya tidak diragukan lagi untuk diterimanya yang pertama, karena Allah SWT. adalah sumber berita yang paling benar, yang tidak mungkin tercampur perkara batil dari-Nya. Adapun yang kedua, karena himmah Rasul adalah Al-qur’an, yakni untuk menjelaskan dan menerangkan.[6]

b.         Penafsiran Al-qur’an dengan Hadits

Allah ‘Azza wajalla berfirman :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Artinya : “Hendaklah kamu sediakan untuk melawan mereka, sekedar tenaga kekuatanmu … “. QS. Al-Anfal : 60.

 

Nabi SAW menafsirkan kata Al-quwwah ( قُوَّةٍ ) dengan Ar-Ramyu ( الرَّمْيُ ) yang artinya panah. Sabda Nabi : “ingat, sesungguhnya kekuatan adalah anak panah, ingat, sesungguh-Nya kekuatan adalah anak panah”.

c.          Tafsir sahabat &  tabi’in

Tafsir para sahabat yakni mereka yang telah menyaksikan wahyu dan turunnya adalah memiliki hukuman marfu’ artinya, bahwa tafsir para sahabat mempunyai kedudukan hukum yang sama dengan Hadits Nabawi yang diangkat dari Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, tafsir sahabat itu termasuk ma’tsur.[7]

Adapun tafsir para tabi’in dan ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat, tafsir itu termasuk ma’tsur, karena tabi’in itu bejumpa dengan sahabat. Ada pula yang berpendapat, tafsir itu sama saja dengan tafsir bir ra’yi (penafsiran dengan pendapat). Artinya, para tabi’in itu mempunyai kedudukan yang sama dengan mufassir yang hanya menafsirkan berdasarkan kaidah bahasa arab.

 

B.     TAFSIR BI AL-RA’YI

1.      Pengertian Tafsir bi Al-Ra’yi

Kata Ra’yun yang berasal dari kata راى يرى  yang berarti menduga atau meyakini. Adapun secara istilah :

§  Tafsir yang didalam menjelaskan maknanya atau maksudnya, mufassir hanya berpegang pada pemahamannya sendiri, pengambilan kesimpulan (istinbath) pun didasarkan pada logikanya semata.

§  menyandarkan pada kekuatan rasional (ijtihad) yang berdasarkanatas prinsip-prinsip logika yang benar, sistem berpikir yang sah, dan syarat yangketat. Jadi, bukan berdasarkan atas hawanafsu dan pendapat akal semata.[8]

§  Metode penafsiran ini disebut juga tafsir bi al-dirayah, atau tafsir bi al-maqul.[9]

§  Corak ini dinamakan juga dengan al-Tafsir bi al-Ijtihadi, yaitu penafsiran yang menggunakan ijtihad. Karena penafsiran seperti ini didasarkan atas hasil pemikiran seorang mufassir. Perbedaan perbedaan antara satu mufassir dengan mufassir lain lebih mungkin terjadi, dibandingkan al-Tafsir bial-ma'tsur.[10]

 

2.      Macam-macam Tafsir bi Al-Rayi

a.       Al tafsir al mahmudah (yafsir bialr’yi yang terpuji)

Ø  Ciri tafsir ini, yaitu :

1.      Sesuai dengan tujuan al Syar’i

2.      Jauh atau terhindar dari kesalahan

3.      Dibangun atas dasar-dasar bahasa arab dan uslubnya

4.      Memperhatikan asbabun nuzul, ilmu munasabah dan lain-lainnya.

Ø  Contoh :

Firman Allah :

ن و القلم وما يسطرون

Artinya : Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan. (Qs. Al-qalam:1-2)

 

Menafsirkan kata al-qalam (pena) dengan alat-alat tulis yang lain seperti pensil, pulpen, spidol, mesin tik dan komputer atau bahkan laptop pada zaman sekarang yang menggambarkan  kemajuan dan keluasan wawasan Al-Qur'an tentang ilmu pengetahuan dan teknologi

 

b.      Al tafsir al madzmumah (Tafsir bi al r’yi yang tercela)

Ø  Ciri tafsir ini,yaitu :

1.         Mufassir tidak memiliki keilmuan yang memadai

2.         Tidak didasarkan kaidah keilmuan

3.         Menafsirkan dengan hawa nafsu

4.         Mengabaikan aturan-aturan bahasa Arab.[11]

 

Ø  Contoh

Ketika masa kampanye tim sukses dari sebagian Parpol terkadang sering menyalahgunakan penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an.

Contoh:  menafsirkan  kata Syajarah شجرة  dengan pohon beringin, dengan maksud mendiskriditkan Partai Golongan Karya supaya tidak dipilih. Pada ayat :

وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

Artinya: ”dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamutermasukorang-orang yang zalim.”(QSAl-Baqarah [2]:35)

 

 

C.     TAFSIR BI AL ISYARAH

1.      Pengertian Tafsir Bi Al Isyarah

Kata al-isyarah berarti tanda,petunjuk, indikasi, isyarat, signal, perintah, panggilan, nasihat, dan saran. Adapun menurut istilah adalah mentakwilkan Al-Qur'an dengan mengesampingkan (makna) lahiriahnya karena ada isyarat (indikator) tersembunyi yang hanya bisa disimak oleh orang-orang yang memiliki ilmu suluk dan tasawwuf. Tetapi besar kemungkinan pula memadukan antara makna isyarat yang bersifat rahasia itu dengan makna lahir sekaligus.

            Salah satu contoh bentuk penafsiran secara Isyari pada surat Al Baqarah ayat 67

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً

§  Makna Zhahir :  Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina...”

§  tetapi dalam tafsir Isyari diberi makna dengan:  “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih nafsu hewaniah...”.

 

2.      Macam-Macam Tafsir Bi Al Isyarah

a.         Tafsir bi al-isyarah yang maqbul (bisa diterima)

memiliki lima syarat berikut:

·           Tidak menafikan makna lahir dari makna-makna yang terkandung dalam redaksi ayat Al-Qur'an al-Karim

·           Mufassir tidak mengklaim bahwa inilah satu-satunya penafsiran yang benar tanpa mempertimbangkan makna tersurat

·           Tidak   menggunakan  takwil  yang    jauh     menyimpang    lagi      lemah penakwilannya

·           Tidak   bertentangan   dengan            dalil     syara'   maupun           argumentasi     aqli (pemikiran rasional).

·           Ada pendukung dalil syar'i yang memperkuat penafsirannya.

b.      Tafsirbi al-isyarah yang mardud (harus ditolak).

Contohnya ialah penafsiran aliran al-bathiniyyah yang menafsirkan kata baqaratun dengan nafsu binatang dalam ayat:


Artinya:Dan (ingatlah),ketika Musa berkata kepada kaumnya:"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina".Mereka berkata:"Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dan orang-orang yang jahil." (QSAl-Baqarah[2]:67)

 

Para pengikut al-bathiniyyah  menafsirkan : isyarat bahwa manusia yang diperintahkan supaya menyembelih (membunuh).nafsu binatang (an-nafs al-bahimah), karena membunuh nafsu binatang berarti menghidupkan hati yang bersifat rohani.Dan itu merupakan jihad terbesar (al-jihad al-akbar



 

 

 

A.    KESIMPULAN


      BAB III

    PENUTUP

 


 

Dilihat dari segi sumber pengambilan atau orientasi penafsirannya, Tafsir Al-Qur'an dapat dibedakan ke dalam tiga aliran besar yakni tafsir bi al-riwayaktafsir bi al-dirayah, dan tafsir bi al-isyarah. Ketiga aliran tafsir ini tumbuh dan berkembang seiring dengan kebutuhan umat dan tuntutan zaman disamping senapas dengan perkembangan cabang/bidang ilmu pengetahuan. Mula-mula lahir Tafsir bi al-riwayah, kemudian diikuti dengan tafsir bi al-dirayah dan akhirnya Tafsir bial-isyarah. Kelahiran Tafsir bi al-dirayak selain karena kebutuhan mendesak pada zamannya, juga sebagai kritik membangun terhadap aliran tafsir bi al-riwayah yang dianggap terlalu sedikit dan Demikian pula dengan tafsir bial-isyarah,  yang lahir sebagai reaksi terhad aliran tafsir bi al-dirayah yang dinilai terlalu mendewakan akal pikiran denga mengabaikan peranan intuisi (wijdan) atau tepatnya suara hati nurani. Kini di alam keterbukaan, aliran tafsir bisa ditambah dengan mazhab multialiran (kombinasi) sebagai kebutuhan mendesak yang takterelakkan.

 

B.     SARAN

 

Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulisakan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber–sumber yang lebih banyak yang tentunga dapat dipertanggung jawabkan.

Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di jelaskan. Untukbagian terakhir dari makalah adalah daftar pustaka.


 

DAFTAR PUSTAKA

Sofyan Muhammad, Tafsir Wal Mufassirun,(Medan: Perdana Publishing,2015.)

 

http://agrinaa.blogspot.com/2012/12/makalah-al-quran-metode-tafsir-bil.htmldiakses pukul 10.36 tgl 10/03/2022

 

Ash Shiddieqy M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta:PT Bulan Bintang)

 

Prof Dr. H. Amroeni Drajat, M. Ag, Pengantar ilmu-ilmu Qur’an, (Depok:KENCANA)

 

Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H,M.A,M.M -(Jakarta:Rajawali Pers, 2014

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Kitab Ushul fit Tafsir,

 

 



[1]M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: PT Bulan  Bintang, hlm 205-206)

[2]Prof Dr. H. Amroeni Drajat, M. Ag, Pengantar ilmu-ilmu Qur’an, (Depok: KENCANA, hal 137)

 

[3]Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H,M.A,M.M (Jakarta: Rajawali Pers, 2014, Hal 332

[5] Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Kitab Ushul fit Tafsir, hal.27

[6] http://studi pemikiran quran hadist.wordpress.com/2013/11/29/tafsir-bil-matsur-dan-tafsir-bil-rayi/ pukul 10.26 tgl 10/03/2022

[7] Ibid

[8]ProfDr.H.AmroeniDrajat, M.Ag, Pengantar ilmu-ilmu Qur’an,(Depok:KENCANA,2017.Hal 148)

[9] Prof.Dr.H. Muhammad Amin Suma,S.H,M.A,M.M (Jakarta:Rajawali Pers,2014,Hal 350

[10]Dr.Muhammad Sofyan,Tafsir Wal MUfassirun,(Medan:Perdana Publishing, 2015.Hal.3)

[11] Prof.Dr.H.Muhammad Amin Suma,S.H,M.A,M.M (Jakarta: Rajawali Pers,2014,Hal 352

 


Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Transliterasi Arab Latin

Fungsi Hadits

KONDISI MASYARAKAT ARAB PRA ISLAM