Makalah Akidah, Tauhid dan Ilmu Kalam
MAKALAH
AQIDAH, TAUHID DAN ILMU KALAM
Disusun Untuk Memenuhi Tugas:
Mata Kuliah : Studi Akhlak Tasawuf dan Aqidah Islam
Dosen Pengampu: Dr. Fatih Ghozali, MM
Disusun Oleh :
1.
ZAINUL ANWAR (23200274)
2.
ROHILI
3.
IMANUDDIN
KELAS MPAI 1A
PROGRAM PASCA SARJANA
IAID AL-KARIMIYAH
2023
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya bagi Allah Tuhan Yang Maha Esa
karena dengan rahmat, taufik ,
hidayah dan karunia yang besar Alhamdulillah tugas makalah dengan judul ”Sejarah
turun Al-qur’an dan Penulisannya (Kitabah dan Tadwin ” dapat diselesaikan.
Selanjutnya shalawat teriring salam kami hanturkan
kepada junjungan Alam Nabi besar
Muhammad saw. dan juga kepada keluarganya, para sahabat, tabi-tabi'in serta kepada
orang-orang mukmin yang senantiasa
berjuang dalam Islam sampai saat ini hingga
akhir zaman.
Dengan harapan besar makalah ini dapat menambah
wawasan dan pengertahuan tentang sejarah turunnya Al-Qur’an dan penulisannya
(Kitabah dan Tadwin) dan pengetahuan
yang menunjang untuk mengetahui tentang sejarah turun al-qur’an dan
penulisannya (Kitabah dan tadwin) dan hikmahnya.
Semoga makalah yang telah disusun ini dapat berguna
terutama bagi kami sendiri maupun
teman-teman sesama mahasiswa.Kami haturkan terima kasih.
Wassalaamu Alaikum wr. wb.
Depok , 24 September 2023
Zainul Anwar , Rohili, dan Imanuddin
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN …………………….………………. iv
A. Latar Belakang ………………………..…………… iv
B. Rumusan Masalah …………………………………..... iv
BAB
II PEMBAHASAN
…………..…………………………… 1
A.
Pengertian Aqidah 1
B.
Pengertian Tauhid 1
C.
Pengertian Ilmu Kalam 2
D. Asal usul sebutan ilmu Kalam 3
E. Sejarah munculnya Ilmu Kalam 3
F. Ruang lingkup Ilmu Kalam 6
BAB III PENUTUP
…………………….………………………....... 9
A. Kesimpulan ………………………………………................ 9
DAFTAR PUSTAKA ………….............…………..…
…
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam perkembangan agama islam banyak dipelajari berbagai
ilmu-ilmu keagamaan, misalnya ilmu fiqih, ilmu aqidah, dan ilmu tauhid. Ilmu-ilmu tersebut mempunyai peranan tersendiri dalam mempelajari
ilmu-ilmu tentang agama islam. Ilmu fiqihmempelajari tentang hukum-hukum dalam
agama islam. Ilmu aqidah mempelajari tentang tingkah laku baik buruk manusia
menurut agama islam. Dan ilmu tauhidmempelajari tentang keesaan Tuhan.
Ilmu tauhid juga disebut ilmu kalam, ilmu kalam adalah
ilmu yang membicarakantentang wujudnya Tuhan (Allah), sifat-sifat yang mesti
ada padaNya, sifat-sifat yangtidak ada padaNya, dan sifat-sifat yang mungkin
ada padaNya. Dan membicarakantentang rasul-rasul Tuhan, untuk menetapkan
kerasulannya dan sifat-sifat yangmesti ada padanya, sifat-sifat yang mungkin
ada padanya dan sifat-sifat yang tidak mungkinterdapat pada dirinya.
Dalam sejarah perkembangannya, dalam mempelajari ilmu tauhid,
muncul banyakmodel-model penelitian ilmu kalam, oleh sebab itu dalam makalah
ini penulis membahas tentang " penelitian ilmu kalam”
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian ilmu tauhid, akidah, dan kalam dalam Islam?
2. Bagaimana sejarah munculnya ilmu kalam dalam
Islam?
3. Bagaimana ruang lingkup ilmu kalam dalam Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
A. AQIDAH
Aqidah berasal dari kata ”Aqad”
yang berarti ”Pengikatan”. Akidah adalah apa yang diyakini seseorang. Jika
dikatakan , ”dia mempunyai aqidah yang benar”, berarti aqidahnya bebas dari
keraguan. Akidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan
pembenarannya terhadap sesuatu. Adapun makna Akidah secara Syara’ adalah iman
kepada Allah , para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir,
serta kepada qadar baik dan qadar buruk. Akidah yang benar adalah fundament
bagi bangunan Agama serta merupakan syarat sahnya amal. Hal ini sebagaimana
Firman Allah Q.S. Al-kahfi: 110
قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ
مِّثۡلُكُمۡ يُوۡحٰٓى اِلَىَّ اَنَّمَاۤ اِلٰهُكُمۡ اِلٰـهٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ
كَانَ يَرۡجُوۡالِقَآءَ رَبِّهٖ فَلۡيَـعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًـاوَّلَايُشۡرِكۡ
بِعِبَادَةِ رَبِّهٖۤ اَحَدًا
Artinya :
”Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa
seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu
adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”
Ilmu Kalam
disebut Ilmu Aqidah karena pokok pembicaraannya ialah pokok-pokok kepercayaan
agama yang menjadi dasar agama Islam. Jadi Aqidah Ilmu Kalam ialah ilmu yang
mempelajari ikatan/keyakinan seseorang tentang masalah ketuhanan dengan
menggunakan dalil-dalil fikiran disertai dalil naqli.
Dinamakan sebagai Ilmu Aqidah atau Aqa’id
karena membicarakan mengenai kepercayaan Islam. Syekh Thahir al-Jazairi
(1851-1919) juga menerangkan bahwa akidah Islam ialah hal-hal yang diyakini
oleh umat muslim, artinya mereka menetapkan atas kebenaran yang ada.
B.
TAUHID
Menurut bahasa Tauhid berasal dari bahasa
Arab, masdar dari kata وحّد يوحّد artinya: keesaan sedangkan menurut istilah
ialah sebagai berikut:
1. Menurut
Husain Affandi al-Jasr, Tauhid ialah ilmu yang membahas hal-hal menetapkan
akidah agama dengan dalil yang meyakinkan
2. Menurut M
Abduh, Ilmu Tauhid adalah suatu ilmu membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat
wajib bagi-Nya sifat-sifat yang boleh dan yang tidak boleh disifati kepada-Nya.
Di samping itu Ilmu Tauhid juga menyikapi Rasul-rasul Allah guna menetapkan
risalah mereka, yang boleh mereka nasabkan dan apa yang dilarang atas mereka.
3. Prof. M.
Tharir A Muin, Ilmu Tauhid adalah ilmu yang menyelidiki dan membahas soal yang
wajib, jaiz, dan mustahil bagi Allah dan bagi sekalian utusan-utusan-Nya, dan
juga mengupas dalil-dalil yang mungkin cocok dengan akal pikiran sebagai alat
untuk membuktikan adanya Zat yang mewujudkan
4. Menurut Hasbi al-Shiddieqy ilmu Tauhid ialah ilmu yang
membicarakan tentang cara-cara menetapkan akidah agama dengan mempergunakan
dalil-dalil yang meyakinkan, baik dalil naqli, aqli ataupun dalil wijdani
(perasaan halus).[1]
5. Ilmu ini
dinamakan Ilmu Tauhid karena pembahasannya yang paling menonjol adalah tentang
ke-Esaan Tuhan yang asas pokok agama Islam, sebagaimana yang berlaku terhadap
agama yang benar yang telah di bawa oleh para rasul yang di utus Allah.
C. ILMU KALAM
- Pengertian
Secara harfiah kalam artinya perkataan atau percakapan.[2]
Sedangkan secara terminologi bahwa ilmu kalam ialah ilmu yang membicarakan
tentang wujud Allah, sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang
tidak ada pada-Nya dan sifat-sifat yang mungkin ada padanya, dan membicarakan
tentang Rasul-Rasul Allah untuk menetapkan kebenaran kerasulannya dan
mengetahui sifat-sifat yang mesti ada padanya, sifat-sifat yang tidak mungkin
ada padanya dan sifat-sifat yang mungkin terdapat padanya.[3]
Sedangkan menurut istilah Ilmu Kalam ialah
sebagai berikut:
a.
Menurut Ibnu Khaldun (1333-1406) bahwa ilmu
Kalam atau ilmu Tauhid ialah ilmu yang berisi alasan-alasan mempertahankan
kepercayaankepercayaan iman, dengan menggunakan dalil-dalil fikiran dan berisi
bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayan salaf
dan ahl Sunnah.[4]
b.
Menurut Husein Tripoli bahwa ilmu kalam ialah
ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan
(agama Islam) dengan bukti-bukti yang yakin.[5]
c.
Menurut Syekh Muhammad Abduh definisi Ilmu Kalam adalah ilmu yang
membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat yang wajib bagi-Nya, sifat-sifat yang
jaiz bagi-Nya dan tentang sifat-sifat yang ditiadakan dari-Nya dan juga tentang
rasul-rasul Allah baik mengenai sifat wajib, jaiz dan mustahil dari mereka.[6]
d.
Menurut Al-Farabi definisi Ilmu Kalam adalah disiplin ilmu yang membahas
Dzat dan Sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin mulai yang berkenaan
dengan masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin Islam
e.
Menurut Musthafa Abdul Razak, Ilmu Kalam ialah ilmu yang berkaitan
dengan akidah imani yang di bangun dengan argumentasi-argumentasi rasional.[7]
- Asal- Usul Sebutan
Ilmu Kalam
Ilmu ini di namakan Ilmu
Kalam karena:
a.
Persoalan terpenting yang menjadi pembicaraan abad-abad permulaan hijrah ialah
”Firman Tuhan” (Kalam Allah) dan non-azalinya Qur’an (Khalq Al-Qur’an)
b.
Dasar Ilmu Kalam ialah dalil-dalil pikiran dan pengaruh dalil-dalil ini nampak
jelas dalam pembicaraan-pembicaraan Mutakallimin. Mereka jarang-jarang kembali
kepada dalil naql (Quran dan Hadits), kecuali sesudah menetapkan benarnya pokok
persoalan lebih dahulu
c.
Karena cara pembuktian kepercayaan-kepercayaan agama menyerupai logika dalam
fisafat, maka pembuktian dalam soal-soal agama ini di namai Ilmu Kalam untuk
membedakan dengan logika dalam fisafat
Ilmu Kalam juga dinamakan
Ilmu Tauhid, tauhid ialah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa,
tidak ada sekutu baginya. Ilmu Kalam dinamakan Ilmu Tauhid, karena tujuannya ialah
menetapkan keesaan Allah dalam Zat dan perbuatan-Nya dalam menjadikan alam
semesta dan hanya Allah yang menjadi tempat tujuan terakhir alam ini.
Ilmu Kalam juga dinamakan
Ilmu Aqaid atau Ilmu Ushuludin, karena persoalan
kepercayaan yang menjadi pokok ajaran agama itulah yang menjadi pokok
pembicaraannya.
Ilmu kalam menyerupai Ilmu
Theologi, terdiri dari dua kata yaitu ”Theo” artinya ”Tuhan” dan
”Logos” artinya ”Ilmu” jadi theologi bermakna ilmu tentang ketuhanan.
- Sejarah Munculnya
Ilmu Kalam
Faktor-faktor yang
mempengaruhi lahirnya Ilmu Kalam, diantaranya ada dua macam yaitu:
a.
Faktor-Faktor Dari Dalam
1)
Al-qur’an sendiri disamping ajakannya kepada tauhid dan memercayai kenabian dan
hal-hal yang berhubungan dengan itu, menyinggung pula golongan-golongan dan
agama-agama yang ada pada masa Nabi Muhammad saw., yang mempunyai
kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar. Qur’an tidak membenarkan kepercayaan
mereka dan membantah alasan-alasannya, antara lain:
a)
Golongan yang mengingkari agama dan adanya tuhan dan mereka mengatakan bahwa
yang menyebabkan kebinasaan dan kerusakan hanyalah waktu saja (Q.S. Al-Jatsiyah
(45): 24)
Dan mereka berkata:
“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita
hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka
sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja.”
b)
Golongan -golongan syirik (Q.S. Al-Maidah (5): 116)
“Dan (ingatlah)
ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada
manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa
menjawab: “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan
hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau
mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada
diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.”
c)
Golongan-golongan kafir (Q.S. Al-Isra’ (17): 94)
“Dan tidak ada
sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk
kepadanya, kecuali Perkataan mereka: “Adakah Allah mengutus seorang manusia
menjadi rasuI?””
d))
Golongan -golongan munafik (Q.S. Ali Imran (3): 154)
“Kemudian setelah kamu
berduka cita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang
meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan
oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah
seperti sangkaan jahiliyah. mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang
sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya
urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. mereka Menyembunyikan dalam hati mereka
apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi
kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak
akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di
rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu
keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. dan Allah (berbuat demikian) untuk
menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam
hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati.”
Tuhan membantah
alasan-alasan mereka dan memerintahkan Nabi Muhammad untuk tetap menjalankan
dakwahnya dengan cara yang halus, Firman Allah Q.S. An-Nahl (16): 125
“Serulah (manusia) kepada
jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang
yang mendapat petunjuk.”
2)
Adanya nas-nas yang kelihatannya saling bertentangan, sehingga datang orang-
orang yang mengumpulkan ayat tersebut dan memfilsafatinya. Contohnya; adanya
ayat-ayat yang menunjukkan adanya paksaan (jabr), (Q.S. Al-Baqarah(2): 6,
Al-Muddsir(74):17
Soal-soal politik, contoh soal khilafat (pimpinan pemerintahan negara).
Pergantian pemimpin umat sesudah meninggalnya Rasulullah. Awalnya persoalan
politik tidak mengusik persoalan agama, tapi setelah peristiwa terbunuhnya
khalifah Usman, kaum muslimin terpecah menjadi beberapa partai, yang
masing-masing merasa sebagai pihak yang benar dan hanya calon dari padanya yang
berhak menduduki pimpinan negara. Kemudian partai-partai itu menjadi partai
agama dan mengemukakan dalil-dalil Agama untukmembela pendiriannya. Dan
selanjutnya perselisihan antara mereka menjadi perselisihan agama, dan berkisar
pada persoalan iman dan kafir.
Peristiwa terbunuhnya Usman menjadi titik yang jelas dari permulaan
berlarut-larutnya perselisihan bahkan peperangan antara kaum muslimin. Sebab
sejak saat itu, timbullah orang yang menilai dan menganalisa pembunuhan
tersebut di samping menilai perbuatan Usman r.a., sewaktu hidupnya.menurut
segolongan kecil, Usman r.a., salah bahkan kafir dan pembunuhnya berada di
pihak yang benar, karena perbuatannya yang dianggap salah selama memegang
khilafat. Sebaliknya pihak lain mengatakan bahwa pembunuhan atas Usman r.a.
adalah kejahatan besar dan pembunuh-pembunuhnya adalah orang-orang kafir,
karena Usman adalah khalifah yang sah dan salah seorang prajurit Islam yang
setia. Penilaian yang saling bertentangan kemudian menjadi fitnah dan
peperangan yang terjadi sewaktu Ali r.a memegang pemerintahan.
Dari sinilah mulai timbulnya persoalan besar yang selama ini banyak
memenuhi buku-buku ke-Islaman, yaitu melakukan kejahatan besar, yang mula-mula
dihubungkan dengan kejadian khusus, yaitu pembunuhan terhadap Usman r.a,
kemudian berangsur-angsur manjadi persoalan yang umum, lepas dari siapa
orangnya. Kemudian timbul soal-soal lainnya, seperti soal Iman dan hakikatnya,
bertambah atau berkurangnya, soal Imamah dan lain-lain persoalan.
Kemudian soal dosa tersebut, dilanjutkan lagi, yaitu sumber kejahatan
atau sumber perbuatan dilingkungan manusia. Karena dengan adanya penentuan
sumber ini mudah diberikan vonis kepada pelakunya itu. Kalau manusia itu
sendiri sumbernya, maka soalnya sudah jelas, akan tetapi kalau sumber
sebenarnya Tuhan sendiri. Dan manusia itu sebagai pelakunya (alat), maka
pemberian keputusan bahwa manusia itu berdosa atau kafir masih belum jelas.
Timbullah golongan Jabbariyah yang mengatakan bahwa semua perbuatan itu dari
Tuhan dan golongan Qodariyah yang mengatakan bahwa manusialah yang bertanggung
jawab sepenuhnya atas segala perbuatannya. Kemudian timbul pula
golongan-golongan lain, seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, yang membicarakan
persoalan tersebut (perbuatan manusia).
b.
Faktor-faktor lain yang datangnya dari luar
1)
Banyak di antara pemeluk-pemeluk Islam yang mula-mula beragama Yahudi,
Masehi, dan lain-lain, bahkan diantara mereka ada yang pernah menjadi ulamanya.
Setelah mereka tenang dari tekanan kaum muslimin mulailah mereka mengkaji lagi
aqidah-aqidah agama mereka dan mengembangkan ke dalam Islam
2)
Golongan Islam yang dulu, terutama golongan Mu’tazilah, memusatkan perhatiannya
untuk penyiaran Islam dan membantah alasan mereka yang memusuhi Islam, dengan
cara mengetahui dengan sebaik-baiknya aqidah-aqidah mereka
3)
Sebagai kelanjutan dari sebab tersebut, Mutakallimin hendak mengimbangi
lawan-lawannya yang menggunakan filsafat, maka mereka terpaksa mempelajari
logika dan filsafat
Ilmu Kalam disebut
sebagai ilmu yang berdiri sendiri yaitu pada masa Daulah Bani Abbasiyah di
bawah pimpinan khalifah al-Makmun, yang dipelopori oleh dua orang tokoh Islam
yaitu Abu Hasan al-Asy’ari dan al-Maturidi
- Ruang Lingkup Ilmu
Kalam
Pokok permasalahan Ilmu
Kalam terletak pada tiga persoalan, yaitu:
a.
Esensi Tuhan itu sendiri dengan segenap sifat-sifat-Nya. Esensi ini dinamakan Qismul
Ilahiyat. Masalah-masalah yang diperdebatkan yaitu:
1.
Sifat-sifat Tuhan, apakah memang ada Sifat Tuhan atau tidak. Masalah ini di
perdebatkan oleh aliran Mu’tazilah dan Asy’ariyah.
2.
Qudrat dan Iradat Tuhan. Persoalan ini menimbulkan aliran Qadariyah dan
Jabbariyah.
3.
Persoalan kemauan bebas manusia, masalah ini erat kaitannya dengan Qudrat dan
Iradat Tuhan.
4.
Masalah Al-Qur’an, apakah makhluk atau tidak dan apakah Al-Qur’an azali
atau baharu.
b.
Qismul Nububiyah, hubungan yang memperhatikan antara Kholik dengan
makhluk, dalam hal ini membicarakan tentang:
1.
Utusan-utusan Tuhan atau petugas-petugas yang telah di tetapkan Tuhan melakukan
pekerjaan tertentu yaitu Malaikat.
2.
Wahyu yang disampaikan Tuhan sendiri kepada para rasul-Nya baik secara langsung
maupun dengan perantara Malaikat.
3.
Para Rasul itu sendiri yang menerima perintah dari Tuhan untuk menyampaikan ajarannya
kepada manusia.
c.
Persoalan yang berkenaan dengan kehidupan sesudah mati nantinya yang
disebut dengan Qismul Al-Sam’iyat. Hal ini meliputi hal-hal
sebagai berikut:
1.
Kebangkitan manusia kembali di akhirat
2.
Hari perhitungan
3.
Persoalan shirat (jembatan)
4.
Persoalan yang berhubungan dengan tempat pembalasan yaitu surga atau neraka
d.
Ayat yang berkaitan dengan ruang lingkup Ilmu Kalam, Dalam surat al-Baqarah
ayat
177 yang berbunyi:
”Bukanlah menghadapkan
wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya
kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat,
kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah
orang-orang yang bertakwa”
Dan dalam hadits
Rasulullah saw.:
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ
جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ
إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ
الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ،
حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى
رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد
أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :
اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ
رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً
قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ:
فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ
وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ
وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ
تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ .
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا
بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ
تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ
رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ
مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ
وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ
دِيْنَكُمْ . [رواه مسلم]
Dari Umar Radhiallahu
Anhu dia berkata : Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah saw., suatu hari
tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih
dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan
tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk
di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada lututnya (Rasulullah
saw.) seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka
bersabdalah Rasulullah saw.: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah
(tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan
Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi
haji jika mampu“, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia
yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi:
“Beritahukan aku tentang Iman“. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir
dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk“, kemudian dia
berkata: “anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku
tentang Ihsan“. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada
Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia
melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “Beritahukan aku tentang hari kiamat
(kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang
bertanya“. Dia berkata: “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya“, beliau
bersabda: “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat
seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)
berlomba-lomba meninggikan bangunannya“, kemudian orang itu berlalu dan aku
berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullahe) bertanya: “Tahukah engkau siapa
yang bertanya ?” aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui“. Beliau
bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan
agama kalian“. (Riwayat Muslim)
Dari ayat dan hadits di atas
dapat diambil kesimpulan bahwa ruang lingkup Ilmu Kalam adalah Rukun Iman yang
enam.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian panjang lebar di atas dapa
disimpulkan:
1. Ilmu Kalam
adalah ilmu yang mempelajari tentang ikatan/keyakinan seseorang tentang masalah
ketuhanan dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan disertai dalil Naqli.
Nama-nama Ilmu Kalam yaitu Ilmu Ushuluddin, Ilmu Tauhid, dan Teologi Islam. dan
ruang lingkupnya adalah tentang meng-Esakan Tuhan yang diperkuat dengan
dalil-dalil irasional agar terhindar dari aqidah-aqidah yang menyimpang
2. Sejarah
munculnya Ilmu Kalam adalah ketika Rasulullah meninggal dunia dan peristiwa
terbunuhnya Usman di mana antara golongan yang satu dengan yang lain saling mengkafirkan
dan menganggap golongannya yang paling benar. dan sumber-sunber Ilmu Kalam
adalah dalil naqli (al-Qur’an dan al-Hadits) dan dalil aqli (dalil fikiran)
3. Faktor
timbulnya Ilmu Kalam ada dua yaitu faktor intern dan ekstern.
4. Hubungan Ilmu
Kalam dengan Ilmu ke-Islaman lainnya (filsafat dan tasawuf) mempunyai persamaan
dan perbedaan
DAFTAR
KEPUSTAKAAN
–
Dusar, Bakri. Tauhid dan Ilmu Kalam. IAIN IBP
Press. Padang: 2001
–
Hanafi, Ahmad. Teologi Islam (Ilmu Kalam). Bulan
Bintang. Jakarta: 2001
–
Abdul Razak, Mustafa. Tahmid Li Tarikh al-Falsafah al-Islamiyah,
Lajnah wa at-Thalif wa-Attarjamah wa Nasyir, 1959
–
Asmuni, M. Yusran. Ilmu Tauhid. PT. Raja Grafindo
Persada. Jakarta: 1996
–
Jaya, Yahya , Teologi Agama Islam Klasik. Angkasa
Raya. Padang : 2000
–
Muin, M. Tharir A Ikthtisar Ilmu Tauhid. Yogyakarta
–
Ash-Shidieqy, Tengku M. Hasbi. Sejarah Dan Pengantar Ilmu Tauhid/kalam.
PT. Pustaka Putra. Semarang :1999
–
Abduh, Muhammad. Risalah Tauhid. Bulan bintang.
Jakarta.1965
–
Murni. Tauhid/Ilmu
Kalam. Padang: 2007
[1] T.M. Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 9.
[2] Murtadha Muthahhari, Mengenal Ilmu Kalam, Cet. I, (Jakarta: Pustaka
Zahra, 2002), hlm. 25
[3] Ahmad Hanafi, Theologi Islam (Ilmu Kalam), (Jakarta: Bulan Bintang,
1974), hlm. 3.
[4] Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, h. 468. Lihat juga H. Sahilun A. Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 3.
[5] Husein Tripoli, al-Husun al-Hamidiyah,
[6] Abduh, Muhammad, Risalah. Tauhid, Terj. Firdaus An. (Jakarta: Bulan
Bintang, 1965) 25.
[7] Abd Razak, Musthofa, Tamhid li Tarikh al-Falsafah
al-Islamiy>yah, Lajnah wa atTha’lif wa at-Tarjamah wa an-Nasyr, 1959. 265.
Comments
Post a Comment