Jadilah Pemimpin yang Tahan Kritik

Pemimpin dalam Islam

فذكر انما انت مذكر

"Maka berilah peringatan karena sesungguhnya Kamu hanyalah orang yang memberi peringatan" (Q.S Al Ghasyiyah 21)

Pemimpin dalam Islam merupakan salah satu perkara yang gampang-gampang susah. Gampang karena pada hakekatnya setiap orang menurut ajaran Islam adalah pemimpin. Suami dalam rumah tangga menjadi pemimpin bagi istri dan anak-anaknya, seorang istri pun berfungsi sebagai pemimpin dalam memelihara kehormatannya sendiri dan menjaga hak milik suaminya. Dalam pendidikan anak justru peranan seorang istri lebih dominan daripada suami yang sering tidak ada di rumah.

Namun pemimpin secara luas dalam artian pemimpin umat dan birokrasi lebih susah dan kompleks. Pemimpin dalam konteks ini terdiri dari pemimpin formal dan informal pemimpin informal yakni pemimpin yang tidak memerlukan surat pengangkatan, sebaliknya pemimpin formal adalah pemimpin yang diangkat dan dikukuhkan dengan surat keputusan dan lainnya.

Pemimpin yang informal menjadi pemimpin karena didaulat oleh masyarakat atas dasar adanya keutamaan dan kelebihan tertentu dari orang yang menjadi idola mereka, misalnya kelebihan:
Pertama, memiliki rasa takut kepada Allah. Kedua,  memiliki izzah atau kewibawaan yang besar.Ketiga memiliki sikap amanah dan istiqomah. Keempat, mampu memberikan petunjuk kepada rakyatnya dan menjadi suri teladan yang baik. Kelima, berakhlak mulia jujur dan terpuji. Keenam, tidak mudah terkecoh dan ambisius dengan kemilauannya kedudukan dan harta. ketujuh, rela berkorban untuk membela kebenaran agama Allah dan kepentingan bangsa. Kedelapan, hidup sederhana dan rendah hati. Kesembilan, bersikap supel ramah dan peduli kepada semua rakyat sehingga persoalan mudah diatasi.

Lebih dari semua yang disebutkan itu, dapat dicatat bahwa seorang pemimpin informal itu terbuka untuk menerima kritik dan nasehat dari pihak lain. Hal ini karena filsafat kepemimpinan dalam Islam harus mau dikritik dan diberi peringatan sebab dengan kritik saran dan peringatan itulah ia dapat menjalankan kepemimpinannya secara tanggung jawab dan efektif.

Pemimpin Tahan Kritik
Dalam al-Qur'an kritik itu dikategorikan sebagai dzikr atau peringatan seperti tersebut dalam firman Allah Swt.: "Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman (Q.S Adz-Dzariyat:55)

Rasul Muhammad shallallahu alaihi wasallam di samping jabatannya sebagai Nabi dan Rasul Allah pada mulanya adalah seorang pemimpin informal dalam masyarakat Mekkah. Tingkah lakunya terpuji dan kejujurannya yang tidak ada bandingnya menyebabkan ia digelari orang terpecaya (Al Amin), padahal ketika itu ia masih sangat muda usianya. Usahanya mendamaikan antara kabilah yang saling berebut untuk memasang kembali batu hitam (Hajar Aswad) di Baitullah dengan penuh kebijaksanaan yang benar-benar memuaskan semua kabilah yang berselisih, itu merupakan salah satu bukti kepemimpinannya yang luar biasa padahal Ia tidak pernah belajar Ilmu manajemen.

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah menjadi utusan Allah, Ia telah memperlihatkan jiwa besar yang mengagumkan. Muhammad tak pernah marah bila dikritik orang meskipun kritik itu berasal dari orang rendahan. Dia tidak pernah menjadikan pengkritik itu sebagai musuh, sebaliknya pengkritik itu dijadikan sebagai sahabat karena sahabat yang baik ialah yang mau berkata jujur dan benar tentang kita bukan yang membenarkan semua tindakan kita.

Kritik Umar bin Khattab misalnya boleh dikatakan sudah merupakan suatu tindakan oposisi yang keras yakni ketika gembong orang-orang munafik Abdullah bin Ubay bin Salul yang muslim memberitahukan kepada Rasulullah perihal kematian ayahnya yang munafik itu lain. Lalu Nabi dengan sejumlah sahabatnya melakukan shalat jenazah kepada jenazah Abdullah bin Ubay.

Saat itu Umar menolak keras (mengkritik) dan menentang keputusan Rasulullah tentang shalat jenazah orang munafik.

Ternyata kemudian tindakan Umar tersebut dibenarkan oleh Wahyu Allah yang melarang Nabi melakukan shalat jenazah atas orang-orang munafik dan orang-orang fasik yang mati. Hal ini termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: " Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka kaum munafik dan fasik dan janganlah kamu berdiri di kuburnya sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan rasulnya dan mereka mati dalam keadaan fasik" (Q.S Attaubah : 84).

Atas kejadian itu, setelahnya Rasulullah tidak pernah mencari-cari kesalahan Umar atau membenci Umar yang telah mengkritiknya, beliau malah berterima kasih dan meminta maaf kepada Umar karena kritiknya tidak didengar.

Pemimpin yang Merusak

Kepemimpinan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam itu berlainan sekali dengan perilaku pemimpin masa kini pada umumnya. Kebanyakan pemimpin masa kini terlebih dahulu mencari orangnya daripada menilai isi kritiknya. Kalau seseorang mengkritik tentang penyalahgunaan kekuasaan atau korupsi yang semakin merajalela dengan mudah pemimpin yang kena kritik itu menuduh si pengkritik sebagai pihak oposisi yang hendak melengserkan kekuasaannya sehingga karena itu banyak orang yang bermaksud baik terpaksa memilih diam dan tutup mulut khawatir akan cap yang akan diberikan kepadanya, padahal ia melontarkan kritik dan saran untuk kemaslahatan umat.

Pemimpin model demikian yang tidak mau dikritik biasanya akan mengumbar hawa nafsunya berlomba-lomba dengan kendaraan mewah dan komoditi tanah (Q.S Ali Imran:14). Mereka bukanlah tipe pemimpin yang ideal untuk dijadikan panutan.

Secara lebih tegas Islam telah memberikan petunjuk kepada kita agar mereka tidak patut ditaati dan diikuti para pemimpin berikut ini:
1. Orang yang ingkar kepada Allah dan hukumnya (Q.S An-Nisa' : 144 , Al Furqon: 52, Al Ahzab: 48)
2. Orang Yahudi dan Nasrani (Q.S Al-Maidah: 51)
3. Orang banyak yang menyebabkan kamu menyimpang dari jalan Allah  (Q.S Al An'am: 116)
4. Orang yang menjadikan agama sebagai olok-olok dan permainan untuk mengelabui umat (Q.S Al Maidah 57)
5. Orang-orang Pendusta  (Q.S Al Qalam 8)
6. Orang yang banyak bersumpah lagi hina (Q.S Al Qalam 10)
7. Orang yang menghalangi perbuatan baik melampaui batas lagi banyak dosa (Q.S Al Qalam: 12 dan Al Insaan:24)
8. Orang yang kaku kasar dan terkenal kejahatannya (Q.S Al Qalam: 13)
9. Orang yang sinis terhadap aturan Allah  (QS Al-Qalam: 15).

Pemimpin yang Baik
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau mendengar kritik dan memperhatikan isi kritik bukan mencari siapa pengkritik.

Ali Bin Abi Thalib Karomallahu wajhah dalam salah satu wejangan kepada pejabat yang diangkat untuk memimpin umat selalu memberikan pengarahan agar memperhatikan apa yang diucapkan atau kritik orang kepadanya bukan mencari data diapa yang melontarkan kritik. Ucapannya yang populer itu: "Perhatikanlah kepada apa yang dikatakan jangan hiraukan siapa yang mengatakannya".

Ajaran Islam sepanjang tuntunan Al-Quran melarang kritik yang menyangkut pribadi seseorang tetapi tidak melarang kritik terhadap orang yang zalim sebagaimana ditegaskan oleh Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak menyukai ucapan yang buruk seperti memakai mencela atau menerangkan keburukan orang lain yang diucapkan dengan terus terang kecuali oleh orang yang teraniaya atau kena zalim (Q.S An-Nisa: 148).

wallahu a'lam.

Comments

Popular posts from this blog

Pedoman Transliterasi Arab Latin

Fungsi Hadits

Bolehkah Berdebat